Cirebon – Dengan mematuhi aturan dan mencermati dengan sungguh-sungguh terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, bukan tidak mungkin generasi muda Indonesia yang mempunyai bakat dan talenta diyakini akan menjadi generasi penerus untuk memimpin bangsa Indonesia ini di masa yang akan datang.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Komjen Pol (Purn,) Eddy Hartono, S.Ik., MH, dalam arahan singkatnya pada acara Sosialisasi Tolak Intoleransi dan Radikalisme dihadapan sekitar 900 lebih siswa-siswi SMA Negeri 1, Jamblang, Kab. Cirebon, Kamis (16/4/2026)
“Jadi ketika Bapak Ibu Guru memberikan pelajaran tolong disimak dengan baik. Dipahami dengan baik apa yang sudah diajarkan oleh bapak ibu guru tadi. Kalau adik adik bisa menyimak atau menerima dan mengerti terhadap pelajaran yang disampaikan bapak ibu grur dengan baik, saya yakin ke depannya adik-adik menjadi penerus generasi kita-kita ini untuk menjadi pimpinan Indonesia masa depan. Tepuk tangan!,” ujar Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono seraya meminta para siswa untuk tepuk tangan.
Lebih lanjut Kepala BNPT memberitahukan, dalam melaksanakan belajar mengajar diperlukan adanya komunikasi yang baik antara guru dengan murid. Komunikasi ini dianggapnya culup penting untuk mengatasi kendala, atau hambatan dalam proses belajar mengajar.
“Nah, kalau saya dulu di sekolah ada namanya CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Enggak tahu istilahnya apa sekarang, Nah dari CBSA itu dituntut supaya jadi dalam proses belajar mengajar itu tidak ada komunikasi yang satu arah. Jadi tidak hanya Bapak Ibu Guru yang menyampaikan pelajaran, ya, tetapi juga ada komunikasi sama muridnya. Nah itu pernah enggak dialami di sini . Cara dialog aktif sama guru, murid diskusi pernah enggak di kelas?,” ujar alumni Akpol tahun 1990 ini.
Lebih lanjut Kepala BNPT mengatakan, komikasi ini juga sebagai sarana untuk curhat bagi siswa, dalam artian curhat untuk masalah atau kendala terhadap pelajaran atau permasalahan lain seperti teman dan sebagainya. Hal ini perlu dilakukan para siswa agar menempuh Pendidikan disekolah ini tidak dijadikan beban oleh siswa.
“Ya, ini enggak apa-apa, emang adik-adik disini tugasnya belajar. Jadi kalau belajar dibuat senang saja kayak bermain gitu, jangan dibuat beban. Dibuat senang. Karena kalau sekolah apalagi ibu guru ngasih pelajaran dibuat beban, rekan-rekan malah rugi nanti,” ujarnya mengingatkan
Apalagi menurutnya, keberhasilan para siswa dalam menempuh Pendidikan di sekolah merupakan bagian dari upaya untuk menempuh cita-cita sekaligus upaya untuk membanggakan orang tua.
“Adik-adik harus ingat sama orang tua. Karena kalian yang hadir di sekolah ini merupakan kebanggaan orang tua dalam meraih cita-cita. Biar orang tuanya enggak susah, cara membantu orang tuanya biar enggak pusing, adik-adik ssekolah yang baik. Apa yang bapak ibu guru ajarkan dipesankan, itu harus diikuti,” ujarnya.
Untuk itu Kepala BNPT juga mengingatkan kepada para siswa, di era globalisasi yang segalanya dilengkapi dengan tehnologi canggih melalui media sosial ini maka generasi muda harus mewaspadainya. BNPT sudah melakukan penelitian terhadap faktor-faktor psikologis terhadap anak-anak yang mudah terhasut di sosial media. Pertama faktor bullying, kedua faktor orang tua yang cerai, dan ketiga yaitu faktor ekonomi.
“Nah ini adalah fakta yang adik-adik sekalian ini untuk terus belajar. Supaya adik-adik ini bisa menghadapi. Apalagi zaman adik-adik sekarang ini dengan zaman saya beda. Saya lahir, besar belum ada handphone dan belum ada komputer. Ya. Adik-adik lahir sudah ada HP. Aapalagi anak sekarang makan bareng di rumah sama orang tua ataupun sama teman-temannya sekarang makannya diam saja karena asik dengan HP,” ujarnya.
Untuk itulah menurutnya kenapa sekarang ini di setiap pemerintah kabupaten atau sekolah-sekolah menghimbau supaya anak-anak tidak menggunakan HP agar fokus belajarnya “Tidak boleh bawa HP Supaya fokus belajarnya. Sekaligus untuk menghindari istilah kerennya cyberbullying. Terus yang kedua, jangan memanfaatkan teknologi untuk kecurangan akademis. Ya. Kalau ujian nanya lihat lewat HP, nah itu enggak boleh,” ujarnya.
Oleh karena itu Kepala BNPT juga berpesan kepada para siswaagar juga lebih mewaspadai terhadap penyebaran berita-berita, informasi-informasi yang ada di HP atau yang ada di sosial media, baik di TikTok, di YouTube. Yang mana hal itu semua harus dicek kebenarannya, dicek validitasnya sehingga generasi muda tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya
“Generasi sekarang, ini generasi Z ya rata-rata ya. harus lebih kritis. Jangan mudah terpengaruh, jangan mudah percaya dengan berita-berita yang ada di TikTok, di YouTube, dicek dulu. Mungkin itu arahan singkat saya. Terima kasih,” ujar Kepala BNPT mengakhiri
Sebelum mendapatkan arahan singkat dari Kepala BNPT, para siswa siswi SMA Negeri 1, Jamblang, Kec. Cirebon ini juga mendapatkan pembekalan singkat mengenai upaya pencegahan bullying, intoleransi dan radikalisme oleh Kasubdit Kontra Propaganda (KP) BNPT, Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono, SH., M.Krim.
“Penguatan ideologi Pancasila sebagai dasar negara menjadi hal yang sangat penting dalam membangun ketahanan ideologi pelajar, sebagai landasan dalam menjaga keberagaman serta mencegah berkembangnya paham radikalisme,” ujar Kolonel Hendro Wicaksono.
Disampaikan Kasubdit KP bahwa dalam satu tahun terakhir terdapat 122 pelajar yang terpapar paham radikal terorisme melalui media sosial, yang dipengaruhi oleh konten kekerasan serta lingkungan digital yang tidak sehat.
“Fenomena intoleransi dan kekerasan di ruang digital semakin marak, ditandai dengan munculnya ujaran kebencian, komentar negatif (toxic), dan cyberbullying, yang kerap dianggap sepele namun memiliki dampak serius hingga ke kehidupan nyata,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan bahwa faktor utama kerentanan pelajar meliputi bullying, kurangnya ruang komunikasi, kondisi keluarga, faktor ekonomi, serta rendahnya literasi digital dan pengaruh anonimitas di media sosial. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya pada aspek psikologis individu, seperti stres dan trauma, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial, perpecahan, hingga kekerasan fisik.
“Untuk itu pentingnya pembatasan penggunaan gadget/HP di lingkungan sekolah guna meningkatkan fokus belajar serta mencegah penyalahgunaan, seperti cyberbullying dan kecurangan akademik,” ujar alumni Akmil tahun 1996 ini.
Terkait permasalahan radikaisme, dirinya menyampaikan bahwa radikalisme tidak hanya dipahami sebagai aksi terorisme, melainkan berawal dari paham intoleransi yang berkembang menjadi sikap kebencian terhadap perbedaan.
“Oleh karena itu, diperlukan penguatan nilai kebangsaan serta internalisasi ideologi Pancasila sebagai landasan dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman. Penguatan nilai spiritual, edukasi literasi digital, serta metode interaktif dan kreatif sepertinya akan lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran pelajar untuk menolak radikalisme serta aktif menyebarkan pesan damai di lingkungan sekolah maupun media sosial,” ujarnya mengakhiri.
Sementara itu Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Jawa Barat (FKPT Jabar), RR Desy Priatni, S.H., M.H. yang turut serta menjadi pembicara juga mengatakan bahwa perlu dilakukan kegiatanlanjutan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah lain untuk memperluas jangkauan edukasi pencegahan radikalisme di kalangan pelajar.
“Selai itu perlu juga mengoptimalkan peran Duta Damai dan FKPT dalam mendorong produksi konten positif di media sosial sebagai bentuk kontra narasi terhadap paham ekstremisme. Tentunya juga mendorong sinergi antara BNPT, pihak sekolah, dan stakeholder terkait dalam memperkuat literasi digital dannilai toleransi di lingkungan Pendidikan,” kata RR Desy Priatni,
Dalam kunjungan tersebut Kepala BNPT tampak didampingi Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi, Meyjen TNI Sudaryanto, SE., M.Han, Plt. Deputi II bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan, Brigjen Pol Wawan Ridwan., Direktur Pencegahan Brigjen TNI Dr. Sigit Karyadi, SH., MH. Mereka diterima oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Jamblang, Indra Gunawan dan jajaran seluruh para guru untuk mengikuti sosialisasi.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!