Erbil – Pasukan keamanan Kurdistan Irak menangkap 22 anggota kelompok teroris Islamic State (ISIS) di Provinsi Sulaymaniyah dan Halabja, termasuk seorang pejabat tinggi agama yang disebut sebagai “Emir Syariah”, setelah mengungkap rencana kampanye serangan di wilayah Kurdistan pada bulan ini.
Penangkapan dilakukan setelah serangkaian operasi selama 96 jam oleh Direktorat Jenderal Operasi Keamanan Wilayah Kurdistan yang bekerja sama dengan Direktorat Keamanan Sulaymaniyah dan Halabja, demikian pernyataan badan keamanan wilayah tersebut pada hari Minggu (13/9) dikutip dari thearabweekly.com.
Dalam operasi tersebut, dua sel bersenjata ISIS dan sejumlah anggota rahasia berhasil ditahan. Pasukan keamanan juga menyita senjata berat, sedang, dan ringan dalam jumlah besar, granat tangan, teropong militer, dan amunisi.
Berdasarkan hasil intelijen selama penyelidikan, para tersangka diduga sedang mempersiapkan beberapa serangan pada pertengahan September.
Di antara yang ditahan adalah yang disebut sebagai “Emir Syariah”, yang diidentifikasi otoritas Kurdi sebagai tokoh agama senior dalam struktur sel tersebut. Pasukan keamanan menangkapnya pada Sabtu malam di wilayah Khurmal, Provinsi Halabja, setelah sempat terjadi baku tembak saat mengepung posisinya.
Penangkapan berhasil diselesaikan sekitar pukul 23.20, tanpa ada korban jiwa di pihak pasukan keamanan.
Ke-22 tersangka saat ini masih ditahan di bawah pengawasan yudisial sementara penyelidik mendalami jaringan, aktivitas, serta barang bukti yang disita selama penggerebekan. Badan tersebut mengatakan barang bukti telah diserahkan kepada Direktorat Jenderal Operasi Keamanan dan hakim penyidik terkait.
Otoritas Kurdi mengatakan rincian lebih lanjut, termasuk pengakuan dan barang bukti lain yang dikumpulkan selama penyelidikan, akan dirilis ke publik. Mereka juga menegaskan bahwa semua yang ditangkap adalah etnis Kurdi.
Penangkapan ini menyoroti tantangan berkelanjutan yang ditimbulkan ISIS, bertahun-tahun setelah kelompok tersebut kehilangan pijakan teritorialnya di Irak.
Alih-alih berusaha membangun kembali wilayah luas yang pernah dikuasainya, organisasi ini semakin mengandalkan sel-sel yang tersebar di daerah terpencil, dengan menggunakan penyembunyian, mobilitas, dan serangan mendadak untuk mempertahankan eksistensinya.
Model tersebut sangat terlihat di Suriah, di mana pejuang ISIS memanfaatkan medan Gurun Badia yang luas dan sulit dipantau untuk mengatur ulang kekuatan, bersembunyi, dan melancarkan serangan terhadap target militer sebelum kembali menarik diri.
Pola yang sama menimbulkan kekhawatiran bagi Wilayah Kurdistan, di mana penemuan dua unit bersenjata yang beroperasi bersama anggota rahasia menunjukkan adanya jaringan yang lebih dari sekadar sel terisolasi.
Kemampuan kelompok ini untuk membangun atau menghidupkan kembali jaringan di wilayah yang telah lama menjadi sasaran operasi kontra-terorisme yang intensif juga menggarisbawahi pentingnya celah keamanan lokal, medan terpencil, dan rute pergerakan yang sudah mapan.
ISIS sebelumnya memanfaatkan wilayah-wilayah yang sulit diawasi di sepanjang perbatasan Irak-Suriah, serta rute gurun dan jaringan penyelundupan yang dapat memfasilitasi pergerakan anggotanya.
Detensi “Emir Syariah” tersebut dapat menjadi sangat penting bagi penyelidik. Jabatan tersebut mengindikasikan bahwa sel tersebut memiliki struktur kepemimpinan yang mampu mengarahkan anggotanya, bukan beroperasi sebagai kumpulan individu yang longgar.
Latar belakang etnis para tahanan juga memberikan indikasi kemampuan organisasi untuk beroperasi melalui jaringan lokal. Otoritas Kurdi mengatakan ke-22 tersangka adalah orang Kurdi, yang menunjukkan bahwa ISIS tidak selalu bergantung pada pejuang dari luar dan dapat memanfaatkan jaringan di dalam komunitas tempat mereka beroperasi.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!