Pancasila Sakti Jadi Benteng Budaya Lokal di Tengah Gempuran Globalisasi Digital

KUPANG – Pesatnya arus globalisasi dan keterbukaan informasi digital tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga ancaman nyata bagi eksistensi budaya lokal dan nilai-nilai Pancasila, terutama di kalangan generasi muda.

Peringatan itu disampaikan Dosen Sosiologi FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Helga Maria Evarista Gero, S.Pd., M.Si., saat menjadi narasumber Obrolan Budaya di RRI Pro 4 Kupang, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut Helga, globalisasi adalah dua sisi mata uang. Di satu sisi ia mempermudah akses teknologi dan efisiensi komunikasi, namun di sisi lain, serbuan nilai-nilai asing yang masuk tanpa filter berpotensi mengikis kearifan lokal dan memudarkan jati diri bangsa.

“Globalisasi tidak bisa dihindari, tetapi harus disikapi secara kritis. Kebudayaan lokal dan nilai-nilai Pancasila harus dijadikan benteng utama agar kita tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi,” tegas Helga dikutip dari laman rri.co.id, Selasa.

Ia menegaskan, di tengah gempuran ideologi ekstrem transnasional dan politik pecah belah yang memanfaatkan ruang digital, Pancasila kembali menemukan kesaktiannya sebagai filter moral bangsa.

Nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan kekeluargaan yang terkandung dalam Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan panduan praktis untuk menyaring budaya luar dan menjaga keharmonisan sosial.

“Pancasila harus dijadikan filter utama. Tanpa itu, kita akan mudah terombang-ambing,” ujarnya.

Helga juga mengkritik penanaman nilai Pancasila yang selama ini terlalu formalistik dan hanya berhenti di ruang kelas. Menurutnya, penguatan ideologi bangsa harus dilakukan secara kontekstual, adaptif, dan membumi.

“Penanaman nilai-nilai Pancasila harus dilakukan secara kontekstual dan adaptif sesuai perkembangan zaman agar lebih mudah diterima dan dihayati oleh generasi muda,” ucapnya.

Edukasi budaya tidak cukup hanya di sekolah dan kampus, tetapi harus hidup di dalam keluarga dan komunitas. Dari sanalah resistensi terhadap ideologi asing yang bertentangan dengan kepribadian bangsa bisa dibangun.

Meski tantangannya kompleks, Helga melihat teknologi justru bisa dibalik menjadi senjata untuk memperkuat kesaktian Pancasila. Keterbukaan digital dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan kekayaan budaya lokal NTT ke panggung nasional hingga mancanegara.

“Melalui penguatan identitas budaya yang berlandaskan Pancasila, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan dampak positif globalisasi tanpa harus kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Dengan Pancasila yang sakti sebagai penapis, globalisasi bukan lagi ancaman yang harus ditakuti, melainkan peluang untuk menunjukkan jati diri Indonesia kepada dunia.