KAMPALA — Lebih dari 200 masyarakat sipil dibebaskan dari Allied Democratic Forces (ADF), kelompok yang berafiliasi dengan ISIS, oleh operasi gabungan pasukan keamanan Uganda dan Republik Demokratik Kongo (DRC). Mereka sebelumnya diculik dan ditahan secara paksa di sebuah kamp oleh kelompok pemberontak ADF, jaringan ekstremis bersenjata yang telah berbaiat kepada ISIS sejak satu dekade lalu.
Dilansir dari Al Jazeera, meski berhasil diselamatkan, pihak militer melaporkan bahwa para sandera ditemukan dalam kondisi kesehatan fisik dan psikis yang sangat memprihatinkan akibat kebrutalan kelompok ekstremis tersebut.
“Banyak dari para sandera yang menceritakan kondisi keras selama dalam penahanan, termasuk minimnya makanan, kerja paksa, dan hukuman bagi mereka yang tidak patuh. Beberapa tampak lemah, menderita penyakit yang tidak diobati seperti malaria, infeksi saluran pernapasan, dan kelelahan fisik yang ekstrem,” ungkap pernyataan resmi militer mengutip laporan Al Jazeera, Senin (20/4/2026).
Penyelamatan ratusan nyawa ini merupakan hasil dari serangan ofensif yang menargetkan basis pertahanan ADF di sepanjang Sungai Epulu. Dalam penyergapan tersebut, pasukan gabungan berhasil melumpuhkan sejumlah anggota militan dan menyita berbagai persenjataan yang kerap digunakan untuk meneror masyarakat lokal.
Keberhasilan operasi pembebasan ini membawa harapan bagi pemulihan keamanan dan perdamaian di kawasan perbatasan yang telah lama dilanda konflik. Sejak awal tahun ini, intensitas operasi gabungan pasukan Uganda dan DRC memang terus ditingkatkan untuk meredam tindak kekerasan terhadap warga sipil.
“Serangan yang berkelanjutan ini telah meningkatkan keamanan di beberapa bagian timur DRC, sehingga memungkinkan komunitas yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka, sekolah-sekolah dapat kembali dibuka, dan roda perdagangan lintas batas antara Uganda dan DRC bisa kembali dilanjutkan,” tandas pernyataan militer tersebut.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!