Nigeria Tegaskan Tak Ada Gencatan Senjata dengan Kelompok Teroris Boko Haram dan ISWAP

ABUJA – Militer Nigeria menegaskan tidak pernah menyepakati gencatan senjata dengan kelompok teroris Boko Haram maupun ISIS Provinsi Afrika Barat (ISWAP). Penegasan tersebut disampaikan di tengah munculnya laporan mengenai dugaan negosiasi rahasia antara pemerintah Nigeria dan salah satu faksi Boko Haram.

Markas Besar Pertahanan Nigeria menyatakan operasi kontra-terorisme tetap berlangsung untuk menghadapi kelompok bersenjata yang mengancam keamanan masyarakat. Militer juga menegaskan bahwa pelaku kejahatan, termasuk penculikan dan aktivitas jaringan kriminal, akan ditindak melalui operasi keamanan maupun proses hukum.

“Tidak ada yang namanya gencatan senjata,” kata juru bicara militer Nigeria, Mayor Jenderal Samaila Uba, dalam konferensi pers di Abuja, Kamis (5/11/2026), seperti dikutip Anadolu, Jumat (6/11/2026).

Dalam pernyataan yang disampaikan kepada Anadolu, militer menyebut pasukan keamanan terus memberikan tekanan terhadap kelompok bersenjata melalui berbagai operasi di sejumlah wilayah Nigeria. Upaya tersebut mencakup pemberantasan kelompok teroris, pelaku penculikan, serta jaringan kriminal yang mengganggu keselamatan masyarakat.

Penegasan militer itu muncul setelah media The New Humanitarian pada September lalu menerbitkan laporan mengenai dugaan kesepakatan gencatan senjata sementara antara pemerintah Nigeria dan salah satu faksi Boko Haram yang dipimpin Ibrahim Bakura Doro.

Laporan tersebut mengutip tiga sumber yang disebut memiliki kontak dengan anggota senior kelompok pemberontak. Mereka mengklaim kesepakatan telah berlangsung sejak Juni setelah serangkaian negosiasi yang dikaitkan dengan pembebasan 360 warga sipil yang diculik dari komunitas Ngoshe, Negara Bagian Borno, Nigeria timur laut.

Laporan itu juga menyebut dugaan pembayaran sebesar 5 miliar naira kepada kelompok pemberontak. Namun, pemerintah Nigeria membantah telah memberikan pembayaran kepada kelompok tersebut.

Di tengah polemik tersebut, Uba memaparkan hasil operasi keamanan militer selama September dan Oktober 2026. Dalam periode dua bulan itu, pasukan Nigeria menggelar 588 operasi keamanan, melumpuhkan 435 teroris dan bandit, serta menangkap 809 tersangka.

Militer juga menerima penyerahan diri dari 198 anggota kelompok pemberontak. Selain itu, sebanyak 717 korban penculikan berhasil diselamatkan dalam rangkaian operasi tersebut.

Dari operasi yang dilakukan, aparat turut mengamankan 5.666 pucuk senjata, amunisi, bahan peledak, dan perangkat peledak rakitan. Angka tersebut disampaikan Uba sebagai bagian dari laporan perkembangan operasi keamanan nasional.

Lebih lanjut, ia mengatakan militer kini memantau pergerakan kelompok-kelompok bersenjata yang mulai meninggalkan basis tradisional mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kelompok pemberontak membangun pusat aktivitas baru di wilayah lain Nigeria.

Nigeria telah menghadapi pemberontakan Boko Haram sejak 2009. Konflik berkepanjangan tersebut telah menewaskan ribuan orang, menyebabkan jutaan warga kehilangan tempat tinggal, serta memperluas ketidakamanan di kawasan Danau Chad.

Dampaknya tidak hanya dirasakan Nigeria, tetapi juga negara-negara tetangga seperti Kamerun, Chad, dan Niger yang turut menghadapi ancaman kelompok bersenjata lintas batas.