Mataram – Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, penguatan literasi digital dan pendidikan karakter dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran hoaks, radikalisme, hingga potensi perpecahan antarumat beragama.
Pesan itu menguat dalam kegiatan “Ngopi Lintas Iman” bertema Merawat Solidaritas Iman Menuju Solidaritas Kemanusiaan yang digelar UIN Mataram melalui Pusat Moderasi Beragama LP2M di Gedung Research Center Kampus II UIN Mataram, Jumat (8/5/2026).
Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Mataram, Apipuddin, mengatakan tantangan terbesar masyarakat saat ini bukan hanya derasnya informasi digital, tetapi juga banyaknya narasi yang justru menggerus nilai toleransi dan kerukunan.
Menurutnya, media sosial kini menjadi ruang yang rawan dimanfaatkan untuk menyebarkan paham radikal, terutama kepada generasi muda yang sangat aktif di dunia digital.
“Yang harus dilakukan adalah memperbanyak kontra narasi positif untuk menjaga tumbuh kembang toleransi dan kerukunan,” kata Apipuddin.
Ia menegaskan, upaya menangkal hoaks dan radikalisme tidak bisa dibebankan hanya kepada kampus atau lembaga pendidikan. Menurutnya, dibutuhkan kerja bersama seluruh elemen masyarakat agar pesan moderasi dan perdamaian semakin kuat di ruang publik.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, tokoh agama, aparat penegak hukum, hingga anak muda didorong terlibat aktif memproduksi konten-konten yang menyejukkan dan memperkuat nilai kebangsaan.
Selain itu, budaya tabayyun atau memeriksa ulang informasi sebelum membagikannya juga dinilai menjadi kebiasaan penting yang harus diperkuat, terutama saat menghadapi isu-isu sensitif terkait agama dan SARA.
“Jangan mudah percaya dan langsung menyebarkan informasi. Masyarakat harus punya kemampuan memilah mana fakta dan mana hoaks agar tidak mudah terprovokasi,” ujarnya.
Apipuddin juga menyoroti peran penting tenaga pendidik dalam membangun pola pikir kritis di kalangan pelajar dan mahasiswa agar mampu membaca serta menganalisis propaganda radikal secara objektif.
“Guru dan dosen memiliki peran penting menanamkan nilai moderasi beragama, toleransi, cinta tanah air, serta nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun Tahir menegaskan perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat pendidikan formal, tetapi juga harus hadir sebagai ruang penguatan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Menurutnya, dialog lintas iman merupakan salah satu instrumen efektif untuk membangun saling pengertian sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
“Dialog seperti ini penting agar keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk mempererat persatuan,” kata Masnun.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh lintas agama di NTB sebagai simbol komitmen bersama untuk menjaga toleransi, memperkuat harmoni sosial, dan merawat persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!