MUI Sumut: Ujaran Kebencian dan Hoaks Jadi Musuh Utama Toleransi Beragama

MEDAN — Ujaran kebencian dan hoaks adalah musuh toleransi beragama di Indonesia. Seruan kewaspadaan tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, Drs. H.M. Hatta Siregar, S.H., M.Si., menyikapi maraknya provokasi yang menyasar isu-isu keagamaan di ruang publik.

Dilansir dari laman resmi MUI Sumatera Utara pada Senin (20/4/2026), Hatta Siregar menyoroti bahwa toleransi beragama bukan sekadar nilai moral, melainkan kebutuhan sosial dan fondasi utama kebangsaan. Namun, fondasi tersebut kini menghadapi ancaman nyata dari narasi ujaran kebencian dan informasi palsu (hoaks) yang bekerja bak api dalam sekam—menyulut emosi, memperlebar prasangka, dan merusak kepercayaan antarkelompok.

“Dalam perspektif ajaran agama, termasuk Islam, ujaran kebencian dan penyebaran kabar bohong jelas bertentangan dengan nilai moral dasar,” tegas Hatta Siregar.

Kombinasi antara ujaran kebencian dan hoaks dinilai sangat berbahaya karena melahirkan kebohongan yang memicu kemarahan, yang kemudian merasa mendapat pembenaran. Hatta menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan algoritma media sosial saat ini cenderung lebih cepat memviralkan konten yang menyulut emosi dibandingkan dengan klarifikasi yang berbasis fakta. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat mengikis rasa saling percaya dan menciptakan segregasi sosial di lingkungan masyarakat.

Guna meredam ancaman disinformasi tersebut, ia mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa mengedepankan prinsip tabayun demi menghindari timbulnya fitnah dan mudarat sosial yang lebih besar.

Untuk menanggulangi persoalan ini, Hatta mendorong adanya upaya terpadu dari berbagai pihak. Langkah krusial yang harus segera dilakukan meliputi penguatan literasi digital bagi generasi muda, peran strategis tokoh agama dalam menyampaikan dakwah yang menyejukkan, serta penegakan hukum yang adil, konsisten, dan transparan bagi para pelaku penyebar kebencian.

Lebih dari itu, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI Sumut ini juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas iman melalui aksi nyata, bukan sekadar agenda seremonial.

“Ketika pemuda dari berbagai komunitas bertemu dalam aksi sosial bersama, mereka membangun pengalaman langsung bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja kemanusiaan. Pengalaman semacam ini sangat efektif mematahkan stereotip negatif yang sering diproduksi oleh hoaks,” pungkasnya.