Jakarta – Guru Besar Politik Islam Prof. Hilman Latif, Ph.D., mendorong para dai yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mengambil peran lebih aktif dalam program deradikalisasi narapidana kasus terorisme (napiter). Menurutnya, dakwah tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga perlu menjangkau kelompok-kelompok yang membutuhkan pendampingan, termasuk warga binaan di lembaga pemasyarakatan.
Hal itu disampaikan Hilman saat peluncuran buku Bergerak untuk Mencerahkan karya Ketua LDK PP Muhammadiyah KH Muchamad Arifin di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu.
Hilman menilai para dai Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk terlibat dalam proses pembinaan keagamaan yang moderat bagi napiter. Menurutnya, pendekatan dakwah yang inklusif dapat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan berkembangnya kembali paham ekstrem.
“LDK harus memiliki peran dalam deradikalisasi. Saya berharap LDK dapat masuk ke kelompok-kelompok marjinal, karena tantangannya ada yang belum mengenal Islam secara utuh, ada pula yang memahami Islam secara terlalu radikal,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pengalaman di Amerika Serikat, di mana peningkatan jumlah pemeluk Islam disebut banyak berasal dari kalangan narapidana. Fenomena tersebut, menurut Hilman, menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan dapat menjadi ruang strategis untuk pembinaan keagamaan yang konstruktif.
Hilman mengungkapkan Muhammadiyah telah menjalankan berbagai kegiatan pendampingan terhadap mantan narapidana terorisme di sejumlah daerah. Salah satunya dilakukan LDK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang pada awal Juni 2026 menggelar pembinaan bagi sekitar 20 mantan napiter di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jawa Timur, Surabaya.
Selain pembinaan keagamaan, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran bantuan sosial dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur sebagai bagian dari upaya mendukung proses reintegrasi sosial mantan napiter.
Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Umum PP Muhammadiyah itu turut membagikan pengalamannya saat mengunjungi berbagai wilayah terpencil di Indonesia. Ia menilai kiprah para dai Muhammadiyah di daerah-daerah pelosok menunjukkan kuatnya tradisi pengabdian organisasi dalam membangun masyarakat.
“Beberapa tahun lalu saya cukup intens mengunjungi daerah-daerah, terutama Pulau Nias. Saya bertemu para dai yang tinggal di lingkungan SD Muhammadiyah dan berbagai amal usaha Muhammadiyah, termasuk panti asuhan. Pada era 1970-an hingga 1980-an, Muhammadiyah memiliki infrastruktur amal usaha yang kuat di berbagai daerah,” tuturnya.
Hilman juga mengapresiasi penerbitan buku Bergerak untuk Mencerahkan yang mendokumentasikan perjalanan para dai Muhammadiyah di berbagai daerah. Menurutnya, dokumentasi semacam itu penting untuk merekam kontribusi dakwah dalam membangun kehidupan masyarakat.
“Kami dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan apresiasi yang tinggi. Dokumentasi seperti ini masih tergolong langka dan layak mendapat perhatian lebih luas,” katanya.
Pada peluncuran buku tersebut, LDK PP Muhammadiyah turut menyalurkan bantuan senilai Rp50 juta dari BSI Maslahat serta memberikan beasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kepada para dai sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam kegiatan dakwah.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!