PEKANBARU – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 3 Pekanbaru tahun ini tak hanya diisi pengenalan budaya sekolah. Sebanyak sekitar 500 peserta didik baru juga mendapatkan pembekalan mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) serta pentingnya literasi digital dari Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri.
Edukasi tersebut diberikan melalui Program Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan (RATAKAN) pada Selasa (7/7/2026). Program ini menjadi bagian dari langkah preventif untuk memperkuat daya tahan generasi muda terhadap penyebaran paham ekstrem yang kini banyak memanfaatkan ruang digital.
Anggota Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri, M. Moni, mengatakan perkembangan teknologi telah membuka peluang bagi kelompok tertentu untuk menyebarkan narasi intoleransi dan ekstremisme melalui berbagai platform, mulai dari media sosial hingga gim daring.
“Perkembangan teknologi saat ini turut dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme melalui media sosial, game online, maupun berbagai konten digital. Karena itu, pelajar harus mampu mengenali ciri-cirinya sejak dini dan bijak dalam menggunakan media sosial,” ujarnya.
Mengusung tema “Sekolah Damai Tanpa IRET”, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai ancaman radikalisme, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan, memperkuat sikap toleransi, serta meningkatkan kemampuan siswa dalam menyaring informasi di dunia digital.
Menurut Moni, sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun karakter generasi muda agar memiliki wawasan kebangsaan yang kuat sekaligus mampu mengenali berbagai bentuk propaganda yang berpotensi memecah persatuan, baik melalui media digital maupun interaksi sehari-hari.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta didik mengikuti sesi diskusi secara interaktif. Berbagai pertanyaan mengenai penggunaan media sosial yang aman, penyebaran informasi di internet, hingga cara menjaga kerukunan di lingkungan sekolah menjadi topik yang banyak dibahas.
Moni menegaskan, Program RATAKAN akan terus diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai satuan pendidikan di Provinsi Riau. Menurutnya, pendekatan edukatif menjadi salah satu strategi penting untuk mencegah penyebaran paham IRET sejak dini.
“Melalui Program RATAKAN, Satgaswil Riau terus memperkuat kolaborasi dengan satuan pendidikan sebagai langkah pencegahan penyebaran paham IRET, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu melakukan deteksi dini terhadap berbagai bentuk ancaman yang berpotensi mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Densus 88 berharap para pelajar tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, menjunjung tinggi toleransi, serta berperan aktif menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!