Modus Pendanaan Terorisme Kian Adaptif, Temuan Dana Capai 5 Miliar Tahun 2025

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan adanya pergeseran pola pendanaan kelompok teroris yang semakin canggih dan menyesuaikan perkembangan zaman. Dalam laporan analisis tahun 2025, BNPT menemukan akumulasi pendanaan terorisme mencapai lebih dari Rp5 miliar.

Hal tersebut disampaikan Kepala BNPT Komjen (Purn) Eddy Hartono dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025 di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, beberapa hari lalu.

Kepala BNPT menjelaskan bahwa ancaman terorisme saat ini tetap persisten, salah satunya terlihat dari kemampuan kelompok teror dalam mengelola finansial.

“Pendanaan terorisme terus berkembang adaptif,” ujar Kepala BNPT dalam paparannya.

Berdasarkan data Tren Terorisme Indonesia Tahun 2023-2025, BNPT mencatat adanya temuan 16 kasus pendanaan terorisme yang menggunakan berbagai metode berbeda.

“Ditemukan 16 kasus pendanaan terorisme melalui berbagai metode dengan akumulasi dana sebesar Rp.5.093.810.613,” jelasnya.

Temuan aliran dana ini berkaitan erat dengan penindakan yang dilakukan aparat keamanan. Selama periode 2023 hingga September 2025, aparat telah menangkap 230 orang yang terlibat dalam jaringan terorisme, di mana sebagian di antaranya memiliki peran spesifik dalam membantu pendanaan serta memberikan dukungan logistik pada kelompok teroris.

Selain pendanaan, BNPT juga menyoroti peran perempuan dalam ekosistem pendanaan ini. Dari 11 perempuan yang terlibat aktivitas terorisme, sebagian besar mendominasi peran di balik layar, termasuk dalam aktivitas menggalang dana untuk kelompoknya.

Atas temuan ini, BNPT mengajak seluruh komponen bangsa dan kementerian/lembaga terkait untuk memperkuat sinergi dalam memutus mata rantai penyebaran paham radikal dan aliran dananya, baik di ruang fisik maupun ruang siber.