Mimika Rawat Kerukunan Lintas Agama, Pemuda Diajak Jadi Penggerak Toleransi

MIMIKA — Kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, bukan sekadar hasil upaya membangun hubungan sosial pada masa kini. Toleransi yang tumbuh di tengah keberagaman agama, suku, dan budaya merupakan warisan leluhur yang perlu dirawat dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika, Jeffrey C Hutagalung. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat menjaga tradisi hidup berdampingan secara damai yang telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Mimika sejak sebelum pemerintahan terbentuk.

“Semangat toleransi ini sudah ada sejak zaman leluhur dan para pendiri daerah ini. FKUB hadir untuk menjaga dan meneruskan semangat yang telah dibangun sejak sebelum pemerintahan terbentuk,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).

Menurut Jeffrey, keberagaman merupakan bagian dari identitas Mimika yang harus dirawat bersama. Seluruh masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama maupun suku, memiliki kedudukan yang sama sebagai bagian dari daerah tersebut. Semangat ini juga sejalan dengan slogan Eme Neme Yauware, yang menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun Mimika.

Ia menilai, toleransi tidak cukup hanya dinyatakan melalui slogan atau imbauan. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama ketika masyarakat menjalankan aktivitas keagamaan dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contohnya terlihat saat perayaan hari besar keagamaan. Pemuda lintas agama turut membantu menjaga rumah ibadah umat Muslim ketika Idulfitri. Sikap saling menghormati dan membantu juga ditunjukkan oleh umat beragama lainnya dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang untuk membangun kepedulian. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.

“Di Mimika, tidak ada satu agama pun yang menghegemoni agama lainnya. Semua memiliki hak yang sama dan mendapatkan perlakuan yang sama. Kalau ada persoalan, kita berharap dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.

Bagi Jeffrey, menjaga kerukunan membutuhkan kesadaran dan komitmen bersama. Kedamaian tidak hadir dengan sendirinya, melainkan perlu dibangun melalui komunikasi, sikap saling menghargai, serta kesediaan menyelesaikan persoalan tanpa memperbesar perbedaan.

Karena itu, ia mengajak tokoh agama, rohaniawan, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh warga untuk terlibat aktif dalam merawat keharmonisan. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat dinilai penting agar persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan dapat diantisipasi dan diselesaikan dengan cara yang baik.

Upaya memperkuat toleransi tersebut juga mendapat momentum melalui rencana penyelenggaraan Konferensi Kota Toleran di Kabupaten Mimika pada 14–17 November. Jeffrey menyebut kepercayaan menjadikan Mimika sebagai tuan rumah sebagai kesempatan untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat praktik kerukunan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.

FKUB Mimika pun menyiapkan sejumlah kegiatan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Agenda tersebut antara lain mini soccer kerukunan, konser kerukunan, serta pertunjukan seni dan budaya.

Pelibatan anak muda menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan nilai toleransi terus diwariskan. Olahraga, musik, dan kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan masyarakat dari beragam latar belakang dalam suasana setara dan penuh kebersamaan.

Melalui kegiatan tersebut, pesan kerukunan diharapkan tidak hanya menjangkau pemuka agama dan tokoh masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Dengan begitu, toleransi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan berkembang menjadi kebiasaan sosial yang terus dipraktikkan.

“Kerukunan dan toleransi ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau FKUB, melainkan tanggung jawab kita semua. Kita harus bergerak bersama agar Mimika tetap menjadi daerah yang rukun, toleran, dan harmonis,” tegasnya.

Jeffrey berharap semangat kebersamaan yang diwariskan para leluhur tetap terjaga dari generasi ke generasi. Dengan komitmen seluruh elemen masyarakat, Mimika diharapkan terus menjadi rumah bersama tempat setiap warga dapat beraktivitas, berkarya, dan menjalankan keyakinannya dengan aman serta saling menghormati.