Beranda / Editorial / Mewaspadai Propaganda “Argumentum Ad Nauseam” Sebagai Metode Devide et Impera Radikal Terorisme Di Cyber Space

Mewaspadai Propaganda “Argumentum Ad Nauseam” Sebagai Metode Devide et Impera Radikal Terorisme Di Cyber Space

Beberapa mingu terakhir pemberitaan media nasional dihiasi isu-isu terhadap penistaan agama. Seluruh stakholder NKRI mengambil peran tidak saja aparatur pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, para pakar dan pengamat sosial politik,hukum maupun masyarakat itu sendiri mengomentari situasi yang sedang dan kemungkinan akan terjadi. Memang harus diakui persoalan isu keagamaan menjadi hal yang sangat sensitif karena menyangkut ideologi hidup, pedoman dan sebuah keyakinan mendasar.

Hal kemudian yang menjadi persoalan ialah penegakan hukum akan menjadi kompleks ketika ditarik kepada persoalan politik. Sebuah ironi antara hukum dan keadilan, penegakan hukum menghendaki kepastian, sementara keadilan menghendaki atau mengandung rasa kepuasaan (intrinsik value). Belum lagi media berperan besar dalam mengarahkan cara berpikir, cara menyikapi dan cara mengambil sebuah keputusan, baik di level pengambil keputusan dalam hal ini aparatur negara, organisasi-organisasi dan masyarakat.

Isu bisa saja berkembang bahkan meluas menyentuh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu sulit untuk mengetahui, bahkan untuk membedakan antara pendapat umum (Doxa), fakta dan Kebenaran dari sebuah peristiwa yang sedang terjadi. Ketiga hal tersebut yang bergabung pada pendapat dan penilaian baik yang dilakukan individu maupun organisasi dapat dikatakan pencampuradukan antara ketiganya. Dengan melihat ini sebaiknya seluruh komponen bangsa bisa bersikap arif, bijak dan memberikan kesejukan terhadap fenomena yang sedang dan kemungkinan akan terjadi bak pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelanga yang artinya jangan hanya karena kesalahan yang nampak seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan”.

Argumentum Ad Nauseam Di Cyber Space

Terorisme secara etimologi berasal dari kata “to terror” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Latin kata ini disebut Terrere, yang berarti “gemetar” atau “menggetarkan”. Kata terrere adalah bentuk kata kerja (verb) dari kata terrorem yang berarti rasa takut yang luar biasa (damailahindonesiaku.com). Sementara radikalisme ialah paham atau aliran radikal dalam politik, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, sikap ekstrem dalam aliran politik (KBBI). Mendasari pengertian ini radikal terorisme bisa diartikan sebagai kelompok atau orang yang memiliki paham kekerasan, ekstrim dengan menggunakan cara-cara kekerasan dan menyebabkan rasa takut yang luar biasa di dalam masyarakat dan negara yang akhir-akhir ini kelompok radikal terorisme memanfaatkan dunia maya. Dunia maya atau diistilahkan dengan cyber space meminjam pemikiran Dysson mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Beroperasi secara virtual/maya
  • Dunia cyber selalu berubah dengan cepat
  • Dunia cyber tidak mengenal batas-batas territorial
  • Anonymous artinya Orang-orang yang menggunakan dunia maya dapat melaksanakan aktivitas tanpa harus menunjukkan identitasnya. Karena interaksi yang dilakukan dalam cyberspace tanpa melibatkan interaksi secara fisik maka interaksi yang dilakukan pun tidak harus menunjukkan identitas yang sesungguhnya.
  • Informasi di dalamnya bersifat publik artinya seluruh informasi yang bertebaran di dunia maya menjadi milik semua orang dan mudah di akses oleh siapa pun.

Dengan karakteristik cyber space tersebut sangat mudah bagi seseorang maupun kelompok dalam menyebarkan dan menggunakan informasi di dunia maya. Dalam hal ini tanpa terkecuali kelompok radikal terorisme memanfaatkan dunia maya sebagai strategi dalam menyebarkan paham, doktrin, rekruitmen anggota bahkan yang sedang marak saat ini ialah Baiat online. Selain sebagai strategi, cyber space juga digunakan kelompok radikal terorisme sebagai medan peperangan cyber war.

Dengan karakteristik cyber space seperti ini sangat mudah informasi yang bertebaran bahkan acapkali berisi hasutan dan fitnah di dunia maya, tanpa ketelitian, kecerdasan dan pemahaman yang utuh sulit rasanya membedakan sesuatu informasi sebagai sebuah fakta, fitnah, isu atau pendapat umum saja. Di sinilah kelompok radikal terorisme memanfaatkan bahkan menunggangi sebuah peristiwa yang sedang terjadi.

Propaganda sebagai metode dan cara yang dikenal dengan Argumentum Ad Nauseam adalah teknik propaganda yang berarti menggunakan pengulangan (repetisi). Penyebaran suatu gagasan yang diulang-ulang sepanjang waktu, dan gagasan tersebut dinyatakan sebagai suatu kebenaran. media penyebaran terbaik ketika media lainnya sangat sedikit / terbatas dan dikontrol oleh propagator.

Berbagai strategi digunakan melalui buzzer, viral, produksi akun anonim bahkan hacking situs-situs tertentu dengan tujuan mengadu domba atau memfitnah. Jika mengacu propaganda yang dihubungkan dengan strategi yang dilakukan Jozef Goebbels, Menteri Propaganda NAZI, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini. Bahkan Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja.

Cyber space sebagai ruang yang tak memiliki batas, kecepatan informasi, dan beroperasi secara virtual tanpa diketahui siapa orang yang menggunakannya sangat rentan disalahgunakan kelompok radikal terorisme. Jika informasi yang disebarkan di cyber space secara terus menerus berulang-ulang seperti peluru yang ditembakan ke sasaran akan dapat mempengaruhi persepsi, kognisi bahkan penilaian baik itu seseorang maupun kelompok.

Mencegah Devide Et Impera Radikal Terorisme

Pola adu domba atau dikenal dengan istilah belah bambu sebetulmya dikenal sebagai strategi politik, tetapi istilah ini sekarang digunakan sebagai strategi di dunia maya. Jika diteliti dengan mendalam begitu marak “devide et impera” fitnah adu domba di dunia maya, tidak saja di media sosial, sosial messanger tetapi juga di website-website. Dengan kemudahan cara membuat dan mengaplikasikannya setiap orang bisa dengan sangat mudah membuat akun baik di facebook, twitter bahkan membuat website pemberitaan. Kesemuanya ini tanpa memiliki ruang kontrol, setiap satu orang dapat membuat puluhan akun, dan website.

Menurut Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) yang terbaru tahu 2016 angka pengguna internet telah mencapai 132,7 Juta dari 256, 2 juta penduduk Indonesia. Kenaikan yang cukup signifikant dari 2014 yang hanya mencapai 88,1 juta naik sekitar 51,8 %. Dengan ini bisa dibayangkan berapa banyak akun-akun yang ada di media sosial. Menurut data jumlah pengguna facebook di Indonesia mencapai 82 juta (Tahun 2015) dengan urutan ke empat didunia dengan. Jika satu akun saja membuat sebuah isu atau fitnah kemudian direspon dan menjadi percakapan apa yang akan terjadi di masyarakat? Atau bagaimana jadinya jika sebuah akun menernak akun untuk kepentingannya disebarkan di cyber space?

Sebuah informasi di dunia maya tidak mudah untuk memahaminya apakah isu atau peristiwa sebagai fakta, pendapat umum, kebenaran atau sekedar fitnah yang dihembuskan. Kadang sebuah fakta bercampur dengan doxa, atau fakta dicuplik sesuai dengan kepentingannya. Tidak semua orang memiliki pemahaman, pengetahuan dalam mengelola informasi di dunia maya.

Dalam hal ini jika sebuah informasi didapat seharusnya seorang pembaca melakukan “Tabayyun” dengan memeriksa COPS yaitu Content, Opinion, Perseption and Source. Keempat hal ini menjadi landasan cara memeriksa sebuah informasi apakah informasi tersebut sebuah fakta, isu atau hanya fitnah yang dihembuskan dengan motif tertentu atau kepentingan tertentu untuk memecah belah bangsa Indonesia. Seorang pengguna dunia maya harus memeriksa konten beritanya, opini apa yang berkembang, cek dan ricek serta kroscek, kemudian apa persepsi yang berkembang. Dan ingat !!! Sumbernya harus jelas. Kalau di media sosial sumber bisa juga profiling penggunanya untuk diketahui waspadai propaganda radikal terorisme yang dilakukan di cyber space yang memiliki pola sporadis, massif dan lepas, dan memakai strategi Argumentum Ad Nauseam.

Waspada bahaya memancing di air keruh.. Ayo cerdas di dunia maya..!!

Tentang PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Baca Juga

Ketika Radikalisme Merambah Jagad Maya

Kelompok radikal terorisme dewasa ini semakin massif dan semakin berani menunjukkan keberadaanya melalui dunia maya. …