Banda Aceh – Upaya merawat perdamaian serta membentengi masyarakat dari ancaman paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme membutuhkan komitmen bersama secara berkelanjutan di seluruh tingkatan masyarakat. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh menggelar kegiatan Ngopi Aceh Damai Tahun 2026 bertajuk “Penyusunan dan Penguatan Kolaborasi Rencana Aksi Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2026-2029” di Banda Aceh. Forum diskusi inklusif ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat komunikasi lintas sektor sekaligus menjaga stabilitas daerah yang telah menikmati kedamaian selama lebih dari dua dekade.
“Saya memandang bahwa forum Ngopi Aceh Damai ini merupakan langkah nyata untuk memperluas ruang dialog dan menumbuhkan kesadaran sensitif terhadap potensi konflik di tengah masyarakat. Usia 21 tahun perdamaian Aceh harus terus kita jaga dan rawat bersama karena perdamaian adalah modal paling utama dalam mendukung seluruh proses pembangunan di daerah kita. Saya mengajak seluruh elemen mulai dari akademisi, ormas, LSM, hingga pemerintahan gampong untuk terlibat aktif membendung potensi ekstremisme kekerasan,” tegas Kepala Kesbangpol Aceh Dr. Munawar, M.A. pada pembukaan acara di Selasa (22/9/2026).
Pencegahan penyebaran ideologi ekstremis di tingkat tapak memerlukan kejelian masyarakat dalam mengenali sinyal-sinyal awal kerawanan sosial sebelum berkembang menjadi aksi terorisme. Sinergi antara lembaga kepolisian, pemerintah, dan ulama menjadi fondasi utama dalam membangun sistem deteksi dini berbasis komunitas.
“Saya mendorong seluruh warga masyarakat untuk dapat berperan aktif sebagai kader perdamaian yang peduli terhadap isu intoleransi, radikalisme, dan terorisme di lingkungan masing-masing. Pencegahan efektif dapat kita lakukan melalui penanaman nilai-nilai kebangsaan dan toleransi di lingkungan pendidikan serta pelaksanaan dialog lintas agama yang intensif,” ujar Kasubdit Politik Dit IK Polda Aceh AKBP Zainuddin, S.H.
Zainuddin juga mengingatkan bahwa ada empat ranah sinyal utama yang harus kita cermati bersama dalam deteksi dini, yaitu aspek ekonomi, sosial, narasi propaganda, dan keamanan. Dengan kerja sama yang kuat antara warga, BNPT, TNI-Polri, dan MPU Aceh, masyarakat luas dapat mendeteksi serta meredam benih ekstremisme secara cepat dan terukur.
Selain pengawasan keamanan, pendekatan sosial dan pemberdayaan komunitas, khususnya pelibatan kaum perempuan, memegang peranan yang sangat vital dalam memutus rantai radikalisme. Fenomena ekstremisme kekerasan kerap dipicu oleh akumulasi persoalan sosial di tingkat keluarga dan pergaulan harian.
Ketua Dewan Pengawas Balai Syura Ureung Inong Aceh Ir. Suraiya Kamaruzzaman, S.T., LL.M., M.T., menegaskan bahwa perempuan tidak boleh lagi hanya ditempatkan sebagai objek perlindungan atau korban dalam isu ekstremisme kekerasan. Kaum perempuan memiliki kapasitas pengetahuan yang luas, pengalaman hidup, serta jaringan sosial yang sangat kuat untuk mendeteksi berbagai perubahan perilaku dan persoalan di tingkat keluarga sejak dini.
“Menurut saya, munculnya pemikiran radikal tidak bisa hanya dipandang dari sudut keamanan semata, melainkan sering kali dipicu oleh faktor ketidakadilan, diskriminasi, tekanan ekonomi, serta trauma sosial. Oleh karena itu, pendekatan kemanusiaan dan pemberdayaan komunitas harus berjalan sejajar dengan langkah penindakan,” paparnya.
Kegiatan ini menjadi batu pijakan penting dalam merumuskan Rencana Aksi Daerah Pencegahan Ekstremisme (RAD PE) Aceh periode 2026-2029 yang partisipatif dan komprehensif. Dihadiri oleh pimpinan dinas sosial, Badan Reintegrasi Aceh, Majelis Permusyawaratan Ulama, dan Majelis Adat Aceh, forum ini menggalang kekuatan kolektif seluruh pemangku kepentingan.
“Saya meyakini bahwa kolaborasi lintas sektor yang kita bangun hari ini akan menjadi benteng pertahanan sosial yang kokoh bagi seluruh warga Aceh. Dengan membangun daya kritis masyarakat dan memperkuat peran lembaga gampong, kita memastikan bahwa narasi radikalisme tidak akan mendapatkan ruang untuk tumbuh. Perdamaian yang telah kita perjuangkan bersama akan tetap abadi demi kesejahteraan generasi mendatang,” tutur Kepala Kesbangpol Aceh Dr. Munawar, M.A. menutup penjelasannya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!