Menyemai Harmoni di Tanah Pasundan: Langkah Konkret BPIP Menghadirkan Pancasila dalam Tindakan untuk Merawat Toleransi

Jawa Barat – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kini tengah melakukan langkah strategis untuk memperkuat tenun kebangsaan dengan menyusun sebuah buku panduan bertajuk Merawat Berkehidupan Beragama. Inisiatif ini muncul sebagai respons langsung terhadap dinamika sosial di Provinsi Jawa Barat yang belakangan ini mendapat perhatian serius akibat mencuatnya isu intoleransi, terutama terkait permasalahan penolakan pembangunan rumah ibadah di beberapa wilayah. 

Penyusunan buku ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan sebuah misi untuk memastikan bahwa kerukunan antarumat beragama tetap terjaga di tengah tantangan ideologi yang kian kompleks. 

“Tentu saja pelaksanaan kegiatan hari ini adalah bentuk dari keprihatinan kita bersama dengan adanya permasalahan kerukunan di masyarakat, dan salah satunya memang terjadi di Jawa Barat,” ungkap Wakil Kepala BPIP, Rima Agristina, Minggu (3/5).

Beliau menjelaskan lebih lanjut mengenai fokus tim saat ini dalam pertemuan tersebut, “Kita tidak mengatakan daerah lain tidak memiliki masalah serupa, tetapi saat ini kita memang sedang fokus membuat buku saku yang dikhususkan bagi daerah Jawa Barat sebagai langkah awal”. Rima memandang bahwa kehadiran panduan praktis ini sangat krusial agar seluruh elemen masyarakat memiliki frekuensi pemahaman yang sama mengenai betapa pentingnya toleransi. “Buku ini menjadi langkah nyata dan tugas kita di BPIP untuk mencoba menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat, terutama mengenai isu intoleransi yang masih sering muncul,” tegasnya.

Rima juga menekankan bahwa penanganan tindakan intoleransi memerlukan kehadiran negara secara utuh melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga aparat keamanan. Namun, beliau menginginkan pendekatan yang lebih humanis dan tidak kaku dalam menyampaikan nilai-nilai luhur tersebut kepada warga. 

“Buku ini juga diharapkan hadir bukan untuk menggurui masyarakat, melainkan sebagai panduan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan yang dikemas secara sederhana dan praktis,” katanya menjelaskan konsep buku tersebut. Beliau sangat mendorong penggunaan bahasa yang inklusif dan mudah dicerna agar pesan perdamaian ini dapat menjangkau semua umur. “Harapan saya adalah agar bahasa yang digunakan sangat sederhana, sehingga bahkan mungkin kakek, nenek kita, hingga anak-anak remaja dapat memahami isi buku ini dengan baik,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Utama BPIP, Tonny Agung Arifianto, memaparkan bahwa perjalanan penyusunan naskah ini telah melalui diskusi yang mendalam dan kini telah mencapai tahap akhir. “Proses penyusunan buku ini memang sudah berlangsung cukup panjang, dan hari ini harapannya adalah tahap finalisasi buku tersebut,” ujar Tonny memberikan informasi terkini. 

Ia sangat mengharapkan partisipasi aktif dari berbagai pihak untuk menyempurnakan draf yang ada sebelum resmi diterbitkan. “Kami tentunya sangat berharap mendapatkan masukan-masukan terakhir dari bapak dan ibu sekalian untuk segera kita finalisasi sebelum melangkah ke tahap berikutnya,” paparnya.

Setelah seluruh masukan diakomodasi, buku ini akan melewati proses birokrasi internal yang ketat sebelum sampai ke meja pimpinan negara. “Tentunya sesuai dengan mekanisme yang berlaku di BPIP, nantinya diperlukan persetujuan dari Ibu Ketua Dewan Pengarah dan buku ini akan menjadi salah satu rekomendasi resmi yang kita sampaikan langsung kepada Bapak Presiden,” pungkas Tonny menjelaskan alur selanjutnya. 

Beliau juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh tim pakar dan staf khusus yang telah mendedikasikan waktu mereka dalam proyek ini. “Semoga ke depannya Pancasila tidak