Beranda / Editorial / Mengungkap Propaganda Fase Kedua “ Lone Wolf dan Self Radicalization“

Mengungkap Propaganda Fase Kedua “ Lone Wolf dan Self Radicalization“

Baru-baru ini Masyarakat dikejutkan aksi Terorisme 20 Agustus 2016 di Tangerang Banten. Pelaku Sultan Aziansyah (SA) adalah pemuda berusia 22 tahun yang melakukan aksi teroris secara sendiri yang dikenal dengan istilah “Lone Wolf”. Aksi dilakukan dengan cara menyerang petugas Kepolisian. Dalam aksi tersebut ditemukan beberapa senjata tajam seperti pisau, pedang dan bom pipa rakitan.

Setiap peristiwa terorisme selalu mengundang respon dari khalayak banyak dari pemerhati terorisme, masyarakat umum, aparatur pemerintah dan juga dari masyarakat biasa. Menjadi pertanyaan besar mengapa SA Pemuda relatif berusia remaja secara serampangan berani melakukan aksi tersebut ? bahkan dapat dikatakan secara konyol memlih mati untuk sesuatu yang sangat mungkin dia tidak mengetahui dan memahami atas apa yang  dilakukan saat itu

Pada beberapa minggu yang lalu sudah dibahas pola dan metode baru aksi terorisme menggunakan strategi yang dinamakan dengan Lone Wolf atau srigala tunggal. Walaupun istilah ini pada awalnya tidak dikenal dalam kelompok teroris tetapi gerakan rasisme yang berkembang di Amerika Serikat yakni Alex Curtis dan Tom Metzger pelopor “white supremacists” atau supremasi kulit putih. Bagi Alex Curtis dan Tom Metgzer mereka melakukan kampanye kepada sesama kaum rasis di Amerika untuk tergerak melakukan tindakannya sendiri–sendiri tanpa komando untuk melakukan pembunuhan, penggunaan senjata biologis untuk menghancurkan ras lain.

Begitu pun jargon Lone Wolf hari ini digunakan kelompok radikal terorisme untuk melakukan aksi-aksi terorisme. Lone Wolf merupakan merupakan istilah simbolik ketika seseorang sudah terpapar paham dan ideologi radikal atau Self Radicalization dan melakukan aksi kekerasan (terorisme).

Lone Wolf sebagai Simbol, Strategi sekaligus Indoktrinasi di Dunia Maya

Sebuah simbol selalu mengidentifikasi sesuatu makna di baliknya baik secara objektif maupun subjektif. Jika meminjam pemikiran Paul Ricoeur, Tokoh Hermeneutik Perancis “Simbol menimbulkan pemikiran” bisa dikatakan simbolisasi Lone Wolf/Srigala Tunggal merupakan strategi sekaligus doktrin dari kelompok radikal terorisme untuk membentuk dan mengarahkan pemikiran, persepsi, kognisi dan afeksi pembaca dari kepentingan yang dikehendaki di balik simbol tersebut. Tentu saja kepentingan kelompok terorisme itu sendiri. Simbol berasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya ”melempar bersama-sama”, melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang kelihatan, sehingga objek tersebut mewakili gagasan. Simbol dapat menghantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu.

Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu, ketika kelompok teroris menyebarkan propaganda Lone Wolf sebagai sel tidur dalam melakukan aksi terorisme ini juga merupakan indoktrinasi yang dilakukan kelompok radikal terorisme. Indoktrinasi adalah sebuah proses yang dilakukan berdasarkan satu sistem nilai untuk menanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu kelompok radikal terorisme menggunakan gambar-gambar dan kata-kata Lone wolf dalam menyebarkan propaganda penyebaran pahamnya di dunia maya. Sebelum SA melakukan aksi terorisme tersebar di Dunia maya seruan untuk Lone Wolf sebagai Sel tidur untuk melakukan aksi yang mereka sebut dengan Amaliyah, bahkan propaganda ini dikemas dalam bentuk arikel pendek dengan judul Taktik amaliyah Just Teror. Dalam tulisan-tulisan tersebut berisikan seruan untuk melakukan aksi terorisme,menyerang aparatur pemerintah yang disebut Thogut dengan menyitir sejarah, riwayat-riwayat yang ditafsirkan secara dangkal atau bahkan kemungkinan mengarang riwayat yang sebenarnya tidak pernah ada dalam sejarah keagamaan

Apa dan Mengapa Self Radicalization Fase Kedua ?

Meneropong aksi terorisme yang dilakukan SA harus dilakukan pembedahan secara menyeluruh (komfrehensif). Aksi tersebut tidak saja dilihat secara historis latar belakang SA melakukan aksi konyol seperti itu, pengupasan juga harus dilakukan apa-apa saja yang memungkinkan berpengaruh, dampak apa saja yang kemungkinan terjadi. Dalam hal ini apa yang dilakukan kelompok radikal ketika momentum aksi terorisme yang dilakukan SA.

Sebelum kita mengurai lebih jauh aksi terorisme yang dilakukan SA, dalam teori mengenai teknik-teknik Propaganda dikenal istilah Teknik transfer adalah suatu teknik propaganda di mana orang, produk, atau organisasi diasosiasikan dengan sesuatu yang mempunyai kredibilitas baik/ buruk, dalam teori psikologi dikenal dengan istilah Aksi- Reaksi. Penyerangan yang dilakukan SA kepada anggota kepolisian merupakan sebuah aksi, dan menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan, reaksi tidak saja dari pemerintah atau kelompok masyarakat yang mengecam terorisme tetapi reaksi juga akan muncul dari kelompok terorisme itu sendiri. Menjadi bahan analisa ialah apa kemungkinan reaksi yang dilakukan kelompok teroris terhadap aksi yang dilakukan SA. Dan reaksi apa yang diinginkan kelompok radikal terorisme terhadap masyarakat atau pengguna di dunia maya dalam menyikapi aksi SA?

Dengan memakai teori propaganda teknik transfer, SA pelaku aksi terorisme Tangerang sebagai Lone Wolf diasosiasikan sebagai pejuang agama. Di dunia maya bertebaran ucapan selamat atas aksi heroisme yang dilakukan SA, bahkan akun radikal memproduksi konten-konten radikal dengan menggunakan berbagai bentuk seperti visualiasi video SA, meme gambar SA yang di samakan dengan Daeng Koro, dan narasi-narasi dengan memplintir riwayat-riwayat dan teks suci keagamaan. Ini yang disebut dalam propaganda sebagai Operasi Psikologis kelompok radikal memanfaatkan momentum Aksi terorisme yang dilakukan SA untuk Meradikalisasi pembaca dalam hal ini pengguna dunia maya (Media sosial dan media online). Pembaca akan diarahkan dengan narasi-narasi yang dikemas dan dibungkus ajaran agama.

Operasi psikologis dianggap menjadi faktor yang menentukan untuk mempengaruhi target sistem tata nilai pemirsa, sistem kepercayaan, emosi, motif, pemikiran, dan perilaku. Sasaran (pemirsa) dalam operasi psikologis bisa jadi pemerintah, organisasi, kelompok, dan individu dengan menggunakan teknologi informasi dalam memperkuat sikap dan perilaku, sasaran bisa jadi pemula atau kadang-kadang kombinasi. (wikipedia). Nah kemudian di sinilah kelompok radikal terorisme melancarkan apa yang disebut dengan  Propaganda fase Kedua, di mana kelompok radikal terorisme mencari mangsa, Lone Wolf baru. Ketika sebagian besar masih banyak pemuda mengalami kedangkalan beragama dengan ikut bereaksi secara reaktif terhadap SA, kemudian mencoba mencari penilaian-penilaian apa yang dilakukan SA, di sinilah pembaca atau pengguna dunia maya akan sangat mudah masuk dalam perangkap hasutan, ajakan untuk bergabung dengan kelompok radikal terorisme bahkan untuk melakukan aksi yang sama seperti SA lakukan.

 

Tentang PMD

Admin situs ini adalah para reporter internal yang tergabung di dalam Pusat Media Damai BNPT (PMD). Seluruh artikel yang terdapat di situs ini dikelola dan dikembangkan oleh PMD.

Baca Juga

Ketika Radikalisme Merambah Jagad Maya

Kelompok radikal terorisme dewasa ini semakin massif dan semakin berani menunjukkan keberadaanya melalui dunia maya. …