Jakarta – Upaya merawat keharmonisan sosial serta membentengi masyarakat dari ancaman paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme membutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Taufik Damas, menegaskan bahwa nilai toleransi beragama tidak boleh berhenti sekadar sebagai slogan manis atau kegiatan seremonial tahunan. Toleransi yang sejati harus tercermin dalam tindakan nyata menghormati martabat manusia, menolak segala bentuk diskriminasi, serta memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara tanpa memandang sekat keyakinan.
“Saya memandang bahwa toleransi adalah bentuk kesadaran tertinggi bahwa kebenaran yang kita yakini tidak memberikan kita hak untuk merampas martabat orang lain. Iman boleh teguh di dalam dada, tetapi nilai kemanusiaan tidak boleh runtuh akibat fanatisme sempit. Keyakinan agama yang dipegang teguh seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan apalagi merampas hak orang lain yang berbeda keyakinan,” tegas Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas saat menyampaikan paparannya dalam Focus Group Discussion (FGD) Multiperspektif Toleransi Beragama di Kompleks UNJ, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2026), dikutip dari NU Online.
Internalisasi nilai toleransi yang berakar pada kesetaraan menjadi pertahanan paling ampuh dalam membendung masuknya ideologi radikal yang kerap memanfaatkan isu perbedaan untuk memicu disintegrasi bangsa. Kerukunan yang dipaksakan tanpa landasan keadilan rentan dimanipulasi oleh kelompok ekstremis yang berupaya merusak tatanan kemasyarakatan.
“Saya menekankan bahwa kerukunan tidak dapat dimaknai sebatas ketiadaan konflik fisik di lapangan semata. Perdamaian tanpa keadilan hanyalah ketenangan semu yang berisiko pecah sewaktu-waktu, sementara toleransi tanpa kesetaraan berisiko menjadi cara halus untuk mempertahankan dominasi pihak tertentu. Toleransi menghendaki penghormatan atas perbedaan sekaligus jaminan bagi setiap individu untuk hidup secara aman tanpa rasa takut akan tindakan diskriminatif,” ujar KH Taufik Damas.
Agama memiliki peran moral yang sangat besar untuk mendorong pemeluknya agar tampil sebagai perekat persaudaraan dan pelindung kemanusiaan di tengah dinamika masyarakat yang majemuk. Kemuliaan beragama tidak hanya diukur dari aspek ritual personal, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai kasih sayang itu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Saya berpandangan bahwa nilai keagamaan yang luhur harus tercermin dalam tindakan nyata terhadap sesama manusia. Kemuliaan iman tidak semata-mata diukur dari keteguhan mempertahankan identitas kelompok, tetapi dari kelapangan hati dalam menghormati hak dan martabat orang lain. Dalam konteks Nahdlatul Ulama, toleransi wajib diwujudkan melalui aksi konkret membela kelompok rentan, menolak prasangka intoleran, dan memperjuangkan keadilan tanpa membeda-bedakan latar belakang agama maupun organisasi,” tutur KH Taufik Damas.
Dukungan terhadap seruan pembumian toleransi tersebut juga disampaikan oleh kalangan akademisi yang menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menyebarkan narasi moderat. Pembentukan karakter pemuda yang inklusif merupakan langkah preventif terbaik untuk memutus mata rantai penularan ideologi terorisme di lingkungan akademik.
Menurut KH. Taufik, para akademisi di lingkungan perguruan tinggi berkomitmen untuk terus menjadikan kampus sebagai pusat persemaian nilai-nilai moderasi beragama dan kesetaraan hak, sehingga para mahasiswa terlatih untuk berpikir kritis serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi radikal yang berupaya memecah belah persatuan Indonesia.
Melalui komitmen bersama untuk menjaga martabat kemanusiaan di atas sekat-sekat kelompok, masyarakat Indonesia dapat bahu-membahu membentengi bangsa dari ancaman radikalisme. KH. Taufik berharap agar seluruh elemen masyarakat mampu mempraktikkan toleransi sebagai kemampuan untuk tetap berbeda tanpa saling meniadakan di ruang publik.
“Kita tidak harus berjalan menuju keyakinan yang sama, tetapi kita wajib memastikan bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk berjalan dengan aman, adil, dan bermartabat demi terwujudnya kedamaian abadi di bumi Nusantara,” pungkasnya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!