Menenun Harmoni Pemuda Papua dalam Bingkai Negara Kesatuan

Jayapura – Pentas Seni dan Budaya Papua 2026 yang diselenggarakan di Taman Budaya Expo Waena, Jayapura dengan meninggalkan pesan mendalam mengenai nasionalisme dan persatuan. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diprakarsai oleh Barisan Merah Putih Provinsi Papua sebagai bentuk peringatan kembalinya Papua ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Momentum ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga menjadi sarana strategis dalam membentengi generasi muda dari ancaman yang merusak tatanan sosial, seperti peredaran narkoba dan infiltrasi paham radikalisme. Kegiatan ini secara resmi berakhir pada Jumat, 1 Mei 2026.

Matias Benoni Mano, pejabat Dinas Pariwisata Kota Jayapura, dalam orasinya memberikan penekanan yang sangat kuat mengenai peran vital pemuda dalam menjaga keutuhan bangsa. “Saya ingin menegaskan bahwa pemuda Papua harus mampu menjadi pelopor dalam menjaga nilai-nilai luhur kebangsaan kita di masa depan,” ungkap Matias dengan penuh keyakinan. 

Beliau menyadari bahwa tantangan zaman saat ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para remaja agar tidak terjerumus ke dalam lingkaran gelap pengaruh negatif yang dapat menghancurkan masa depan mereka. “Sangat penting bagi setiap anak muda di tanah ini untuk benar-benar menjauhi pengaruh buruk seperti narkoba, tindakan kekerasan, serta paham radikalisme yang dapat memecah belah persaudaraan kita,” tambahnya dengan nada serius.

Bagi pemerintah setempat, kegiatan yang mengusung tema “Solidaritas Pemuda Papua Memperkokoh NKRI” ini merupakan wujud nyata dari upaya membangun karakter generasi penerus yang tangguh dan cinta tanah air. “Menurut pandangan saya, pemuda juga harus berani mengambil peran aktif dalam setiap proses pembangunan daerah yang sedang kita jalankan saat ini,” tutur Matias dalam pesan-pesan kebangsaannya. 

Ia memandang bahwa ekspresi melalui seni dan budaya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan mata. “Saya melihat bahwa seni dan budaya bukan hanya sekadar warisan dari leluhur kita, tetapi juga merupakan kekuatan besar untuk membangun karakter bangsa yang kokoh,” jelasnya.

Puncak acara ini menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan perayaan Hari Tari Internasional, Hari Pendidikan Nasional, dan tentu saja Hari Integrasi Papua ke NKRI. “Saya percaya penuh bahwa seni dapat digunakan untuk menyampaikan pesan damai yang kuat serta menciptakan harmoni sosial yang sejuk di tengah masyarakat kita,” ujar Matias menjelaskan fungsi sosial dari acara tersebut. 

Sejalan dengan visi besar pemerintah daerah, yaitu “Papua Cerah”, ia mendorong agar setiap individu muda terus bergerak maju sebagai agen perubahan. “Saya sangat percaya bahwa jika seluruh pemuda Papua mau bersatu, bergerak bersama, dan terus berkarya, maka Papua akan bertransformasi menjadi daerah yang maju, damai, dan sejahtera,” tegasnya.

Apresiasi senada juga datang dari Ketua BMP RI, Max Abner Ohee, yang menilai bahwa acara ini memberikan dampak ekonomi dan sosial yang luas bagi masyarakat, termasuk para pelaku UMKM dan sanggar seni lokal. “Bagi saya pribadi, kegiatan ini telah menjadi sarana yang sangat baik bagi masyarakat untuk menampilkan atau menjual apa saja yang bisa mereka produksi sendiri,” ungkap Max memberikan apresiasinya. Ia berharap agar ruang kreatif ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan terus berlanjut sebagai tradisi tahunan. 

“Harapan besar saya adalah agar kegiatan serupa dapat terus kita gelar secara rutin setiap tahun sebagai wadah pemberdayaan masyarakat melalui seni, budaya, dan berbagai kegiatan sosial lainnya,” pungkas Max menutup pernyataannya dengan penuh harap. Melalui kolaborasi seni dan penguatan ideologi ini, Papua diharapkan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia yang harmonis dan terbebas dari jeratan paham radikal yang merusak.