Sanggau – Upaya membentengi masyarakat dari ancaman pemahaman intoleran, radikalisme, dan terorisme di wilayah perbatasan negara terus diperkuat melalui pendekatan dialogis lintas iman. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sanggau mengambil langkah proaktif dengan menggelar Dialog Kebangsaan Lintas Agama yang dipusatkan di kawasan perbatasan Entikong, tepatnya di Wisma Negara PLBN Entikong, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya strategis untuk mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa di beranda terdepan NKRI.
“Saya menegaskan bahwa dialog ini merupakan momentum yang sangat krusial bagi kita semua untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya moderasi beragama, khususnya di wilayah perbatasan yang berhadapan langsung dengan dinamika luar. Kami berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk terus mendorong harmonisasi antarumat beragama dan mencegah secara dini benih-benih sikap intoleran yang berpotensi merusak keutuhan bangsa,” kata Ketua FKUB Kabupaten Sanggau Pdt. Suyono Asun saat menyampaikan sambutannya.
Wilayah perbatasan sering kali menjadi sasaran empuk masuknya berbagai ideologi ekstrem yang memanfaatkan celah geografis maupun keterbukaan arus informasi. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam mengenai bentuk-bentuk ancaman modern menjadi hal yang mutlak dimiliki oleh setiap elemen masyarakat.
“Saya melihat bahwa ancaman yang kita hadapi saat ini semakin beragam dan kompleks, mulai dari ancaman yang tampak secara fisik hingga yang tidak tampak seperti penyusupan ideologi radikal, paham terorisme, dan sikap fanatisme sempit yang memecah belah. Harapan saya, melalui dialog kebangsaan ini seluruh peserta dapat memahami potensi bahaya tersebut dan berkomitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kerukunan serta harmonisasi hidup beragama di kawasan batas negara ini,” tambah Pdt. Suyono Asun.
Pemerintah Kabupaten Sanggau yang diwakili oleh Susana Herpena selaku Wakil Bupati, menyambut baik inisiatif strategis ini dan memberikan komitmen penuh untuk memfasilitasi kerukunan antarumat beragama secara adil dan merata. Kehadiran negara di wilayah perbatasan menjadi kunci utama dalam memastikan tidak adanya perlakuan diskriminatif yang dapat memicu benih radikalisme.
“Saya bersama Pemerintah Kabupaten Sanggau terus berupaya secara konsisten memperkuat kerukunan antarumat beragama di daerah ini dengan merangkul seluruh pihak, termasuk jajaran FKUB. Kami juga berkomitmen untuk memenuhi dan melengkapi fasilitas rumah ibadah bagi semua pemeluk agama secara adil dan proporsional sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada, sehingga tidak ada kelompok yang merasa diabaikan,” ungkap Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena di hadapan perwakilan FKUB dan tokoh masyarakat setempat.
Di era transformasi digital saat ini, penyebaran propaganda radikal dan ujaran kebencian tidak lagi hanya bergerak melalui tatap muka, melainkan menyusup sangat cepat melalui jejaring media sosial. Berita palsu atau hoaks yang mengatasnamakan ajaran agama menjadi instrumen berbahaya yang kerap dipakai kelompok ekstremis untuk memprovokasi masyarakat.
“Saya menyadari betul bahwa tantangan moderasi beragama hari ini tidak hanya berada di ruang fisik, tetapi telah bergeser ke ruang digital yang tanpa batas. Satu informasi salah atau konten hoaks yang mengatasnamakan agama dapat dengan mudah disebarkan di media sosial, sehingga berpotensi besar mengoyak keberagaman yang telah kita bina bersama. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk mendeteksi dan mencegah setiap potensi provokasi digital tersebut sejak awal,” tegas Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena.
Menutup sambutannya, Susana menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan aparat keamanan di perbatasan Entikong menjadi benteng kokoh dalam mempertahankan kedaulatan serta kerukunan nasional. Dirinya mengimbau kepada seluruh tokoh agama dan masyarakat setempat untuk menjadikan hasil dialog ini sebagai panduan dalam membimbing umat masing-masing. Masyarakat Sanggau harus membuktikan bahwa warga di perbatasan negara mampu menjadi teladan dalam mempraktikkan toleransi dan menolak keras segala bentuk paham radikal serta tindakan terorisme.
“Dengan menjaga ruang digital tetap sejuk dan mempertahankan silaturahmi antariman, kita memastikan bahwa Indonesia tetap berdiri kokoh dan damai di wilayah perbatasan,” pungkas Susana.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!