Dhaka– Gelombang ekstremisme dan intoleransi kembali memperlihatkan wajah aslinya yang merusak peradaban dan kedamaian umat beragama di Bangladesh. Kelompok radikal di negara tersebut kini semakin beringas dengan mengalihkan target serangan mereka yang sebelumnya berfokus pada minoritas agama, menjadi penyerangan brutal terhadap tempat-tempat suci dan praktik spiritual kelompok Sufi. Pergeseran tren kekerasan ini diungkapkan secara rinci dalam sebuah laporan investigasi dari organisasi Sufi Islam yang berbasis di Dhaka, yakni Maqam: Centre for Sufi Heritage.
“Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tradisi mistik Islam yang mengedepankan pengabdian spiritual, musik, dan puisi ini kian ditolak mentah-mentah oleh aliran puritan yang beringas,” ujar salah satu juru bicara Maqam dengan nada penuh keprihatinan atas hancurnya toleransi di negaranya. Laporan tentang beberapa aksi pengrusakan lokasi basis kaum Sufi ini dihimpun pada Senin, 13 Juli 2026.
“Kami mencatat dan mengutuk keras fakta bahwa setidaknya enam mazar atau tempat suci Sufi telah menjadi target serangan brutal antara bulan Januari hingga Juni tahun 2026 ini. Bagi saya, tragedi paling memilukan terjadi pada bulan April lalu, ketika Pir Abdur Rahman dibunuh dengan sangat keji di dalam mazarnya sendiri oleh amukan massa ekstremis yang berjumlah hampir tiga ratus orang,” tegasnya.
Laporan investigasi setebal 32 halaman tersebut juga memaparkan deretan serangan sistematis lainnya yang menghancurkan nilai toleransi serta menunjukkan bukti kuat mengenai memburuknya fenomena lokalisasi gaya Taliban di tengah masyarakat.
Salah satu insiden menonjol terjadi pada bulan Maret saat perayaan festival Urs di Mazar Hazrat Ibrahim Shah di kawasan Sylhet, di mana sekelompok radikal menyerang para jamaah yang sedang beribadah. Akibat dari kebencian buta tersebut, para penyerang tidak ragu melukai tiga orang jamaah secara serius, memprotes musik yang dimainkan, dan bahkan merusak sebuah bangunan masjid di sekitarnya.
“Saya merasa sangat hancur dan marah ketika mengingat salah satu insiden masa lalu yang paling tidak manusiawi, di mana jenazah seorang Pir di Mazar Nural Pagla di Rajbari digali kembali dari makamnya lalu dibakar habis oleh kelompok ekstremis. Kami mendokumentasikan bahwa tren intoleransi ini bukanlah hal baru, mengingat pada masa pemerintahan sementara Muhammad Yunus, terdapat sekitar sembilan puluh tujuh mazar yang menjadi sasaran serangan liar tidak terkoordinasi yang mengerikan,” jelasnya.
“Saya sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana kelompok radikal ini merasa semakin di atas angin dan terus melanjutkan tren kekerasan terhadap warisan budaya dan praktik Sufi di bawah rezim BNP saat ini,” kritik perwakilan organisasi tersebut terhadap abainya negara dalam melindungi kaum rentan.
Serangan fisik yang masif ini nyatanya juga menyasar Mazar Shah Ali Baghdadi di Dhaka, di mana rekaman video dengan jelas menunjukkan para pelaku memukuli pengikut Sufi menggunakan tongkat hijau secara membabi buta, serta adanya penyerangan lanjutan di Dargah Sharif Hazrat Shah Kushtia dan Darbar Sharif Habib Shah Barishal. Selain menyerang fisik bangunan ibadah, kelompok-kelompok teror ini juga berupaya membungkam ekspresi kebudayaan kerakyatan tradisional seperti musik Baul yang secara sepihak dicap dan dilarang sebagai praktik tidak Islami.
Keberanian kelompok ekstremis ini bahkan mulai merambah ke tindak kriminal murni, seperti insiden pencurian uang senilai sembilan puluh enam ribu BDT di Dhaka pada bulan Mei yang menunjukkan bahwa mereka merasa aman dan kebal hukum. Intoleransi di ranah publik pun semakin dipertontonkan tanpa malu-malu, yang dibuktikan lewat seruan provokatif dari Mufti Harun Izhar yang meminta masyarakat untuk mengibarkan bendera dengan tulisan Kalema guna menggantikan bendera kebangsaan nasional selama ajang Piala Dunia sepak bola berlangsung.
“Saya memandang segala bentuk serangan terhadap budaya, warisan spiritual, dan perampasan nyawa manusia ini sebagai bukti ancaman terorisme yang harus segera ditumpas habis dari akar masyarakat,” kata aktivis kemanusiaan tersebut menutup pemaparannya. “Saya menuntut institusi pemerintah untuk segera mengambil tindakan hukum yang tegas demi menghentikan kebiadaban para pelaku teror yang beraninya hanya berlindung di balik kedok purifikasi agama ini,” ujarnya melayangkan protes.
“Kami di sini tidak akan pernah mundur untuk bersuara melawan intoleransi, karena bagi saya, membiarkan kebencian radikal ini terus hidup di masyarakat sama saja dengan membiarkan peradaban bangsa kita menuju kehancuran total,” pungkasnya memberikan penegasan kontranarasi ideologis yang tidak bisa ditawar. “Bagi saya pribadi dan seluruh pejuang hak asasi, perlawanan tiada henti terhadap ideologi kebencian ini adalah sebuah tugas suci kemanusiaan yang wajib dipikul bersama demi generasi masa depan,” tutupnya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!