Melasti di Kediri di Tengah Ramadan, Harmoni Nyepi dan Lebaran Menguatkan Toleransi

Kediri – Suasana berbeda terasa di Kota Kediri menjelang Hari Raya Nyepi tahun ini. Di tengah nuansa Ramadan yang tengah berlangsung, umat Hindu menggelar upacara Melasti di bantaran Sungai Brantas, Minggu (15/3), dengan pesan yang lebih luas dari sekadar ritual keagamaan: merawat harmoni dalam keberagaman.

Sejak pagi, ratusan umat Hindu tampak berjalan beriringan membawa benda-benda sakral dari Gedung Nasional Indonesia menuju Taman Brantas. Arak-arakan tersebut menjadi pembuka rangkaian Melasti, sebuah tradisi penting menjelang Nyepi yang sarat makna penyucian diri dan alam.

Sesampainya di tepi sungai, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama, penyucian pratima, hingga pelarungan sesaji ke aliran Sungai Brantas. Tarian sakral Rejang turut mengiringi jalannya upacara, menambah kekhidmatan suasana.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kediri, Ni Made Susilawati, menyebut perayaan Nyepi tahun ini memiliki nuansa yang istimewa. Pasalnya, Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret hanya berselang satu hingga dua hari dari Idulfitri.

Menurutnya, kedekatan dua hari besar tersebut menjadi momentum refleksi bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan ruang untuk memperkuat persatuan.

“Ini bukan kebetulan. Justru menjadi pengingat bahwa kita hidup dalam keberagaman yang harus dirawat bersama,” ujarnya.

Ia menilai, situasi ini membawa energi positif, terutama dalam memperkuat toleransi antarumat beragama. Selain itu, semakin banyak doa yang dipanjatkan dari berbagai keyakinan diyakini membawa harapan baik bagi kehidupan masyarakat.

Secara filosofis, Melasti dimaknai sebagai upaya membersihkan Bhuana Alit (mikrokosmos) dan Bhuana Agung (makrokosmos). Melalui ritual ini, umat Hindu berusaha mengembalikan keseimbangan antara manusia dan alam semesta.

Rangkaian Nyepi di Kediri sendiri masih akan berlanjut dengan Tawur Agung Kesanga pada 18 Maret, yang direncanakan diramaikan pawai ogoh-ogoh dari Taman Sekartaji menuju Pura Penataran Agung Kilisuci.

Sekitar 150 umat Hindu dari Kota dan Kabupaten Kediri mengikuti seluruh rangkaian Melasti dengan khidmat. Cuaca cerah turut mendukung kelancaran acara dari pagi hingga menjelang siang.

Di tengah perbedaan keyakinan yang berdampingan dalam waktu yang hampir bersamaan, Melasti di Kediri tahun ini tak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga penegas bahwa harmoni adalah kekuatan utama dalam kehidupan bermasyarakat.