MATAMUDA MA Mamba’ul Ma’arif Gandeng Duta Damai BNPT Jatim, Bekali Siswa Wawasan Kebangsaan hingga Kampanye Kreatif Anti Bullying

Lamongan – Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) di MA Mamba’ul Ma’arif Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, tahun ajaran 2026/2027 diisi dengan penguatan karakter, wawasan kebangsaan, dan literasi digital. Selama dua hari, 14–15 Juli 2026, madrasah menggandeng Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur untuk membekali peserta didik menghadapi tantangan di era digital.

Tidak hanya mengikuti seminar, para siswa juga diajak mempraktikkan pembuatan konten kampanye positif di media sosial sebagai bentuk implementasi materi yang telah diterima.

Kegiatan menghadirkan Ketua Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur Achmad Reza Rafsanjani serta anggota Duta Damai Diana Indah Fitriyah. Materi yang disampaikan meliputi wawasan kebangsaan, bela negara, moderasi beragama, pencegahan perundungan (bullying), bahaya penyalahgunaan narkoba, hingga pentingnya membangun karakter remaja.

Madrasah Tekankan Pentingnya Karakter

Kepala MA Mamba’ul Ma’arif Banjarwati menegaskan bahwa pendidikan di madrasah tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan ketahanan moral peserta didik.

Menurutnya, siswa perlu dibekali kemampuan menghadapi tantangan sosial dan digital yang semakin kompleks.

“Hari ini kita tidak hanya belajar pelajaran di buku. Hari ini kita belajar tentang hidup, tentang bagaimana menjaga diri, menjaga keluarga, dan menjaga negeri. Madrasah bukan hanya tempat mencari nilai, tetapi tempat menempa hati. Karena sehebat apa pun nilai akademik, apabila karakternya rapuh, maka masa depannya pun dapat terancam,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan Duta Damai BNPT Jatim yang dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.

Pada hari pertama, Achmad Reza Rafsanjani mengajak para siswa memahami bahwa bela negara tidak lagi dimaknai semata sebagai upaya fisik, tetapi juga diwujudkan melalui perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang digital.

Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana untuk berkarya sekaligus memperkuat persatuan apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

“Bela negara hari ini tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Menjadi pelajar yang berprestasi, menjaga persatuan, menghargai perbedaan, serta menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten positif merupakan bentuk nyata bela negara di era digital,” jelas Reza.

Ia juga mengingatkan peserta didik agar mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, serta tidak mudah terpengaruh hoaks, ujaran kebencian, maupun narasi yang mengarah pada intoleransi dan ekstremisme.

Sementara itu, Diana Indah Fitriyah menyampaikan materi mengenai pentingnya menciptakan lingkungan madrasah yang bebas dari perundungan.

Ia menjelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berbentuk ejekan, pengucilan, maupun kekerasan verbal yang berdampak pada kesehatan mental korban.

Pada hari kedua, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba dan pergaulan berisiko. Melalui pendekatan yang komunikatif, siswa diajak membangun keberanian untuk menolak perilaku yang dapat merugikan masa depan mereka.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik pembuatan konten kampanye digital.

Siswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk menyusun konsep video pendek bertema anti-bullying, toleransi, bela negara, moderasi beragama, bahaya narkoba, hingga etika bermedia sosial. Mereka kemudian mempresentasikan hasil karya tersebut sebagai bentuk kampanye positif di ruang digital.

Reza mengatakan pendekatan tersebut bertujuan mendorong pelajar menjadi produsen informasi yang bermanfaat, bukan sekadar konsumen media sosial.

“Anak muda adalah kreator konten. Karena itu, mereka harus mampu menggunakan kreativitasnya untuk menghasilkan konten yang menginspirasi, mengedukasi, dan menyebarkan semangat persatuan. Ketika media sosial dipenuhi oleh konten positif dari pelajar, maka ruang digital kita akan menjadi lebih sehat dan damai,” katanya. (*)

Bangun Generasi Damai

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Selain aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan, para siswa juga menunjukkan kreativitas dalam menyusun pesan-pesan edukatif yang dekat dengan kehidupan remaja.

Kolaborasi antara MA Mamba’ul Ma’arif Banjarwati dan Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jawa Timur diharapkan mampu menjadikan MATAMUDA tidak hanya sebagai ajang pengenalan lingkungan madrasah, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter, penguatan literasi digital, serta penanaman nilai kebangsaan.

Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, mencintai tanah air, serta aktif menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi, baik di lingkungan sekolah maupun di ruang digital.

Judul alternatif:

MATAMUDA MA Mamba’ul Ma’arif Hadirkan Duta Damai BNPT, Siswa Belajar Jadi Kreator Konten Positif

Duta Damai BNPT Bekali Siswa Lamongan Literasi Digital dan Wawasan Kebangsaan

Tak Sekadar Orientasi, MATAMUDA di Lamongan Ajarkan Anti-Bullying hingga Bela Negara Digital

Pelajar MA Mamba’ul Ma’arif Dilatih Kampanye Perdamaian Lewat Media Sosial

Bangun Generasi Tangguh, Duta Damai BNPT Ajak Siswa Lawan Hoaks dan Bullying dengan Konten Positif