Kendari — Di tengah meningkatnya polarisasi identitas di berbagai belahan dunia, sebuah sudut Kota Kendari justru menyimpan kisah sebaliknya: toleransi yang hidup, tumbuh, dan diwariskan lintas generasi. Di Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Dapu-Dapura, Kecamatan Kendari Barat, sebuah masjid dan gereja berdiri berdampingan, hanya dipisahkan satu tembok, selama lebih dari 60 tahun.
Masjid Da’wah Wanita dan Gereja Pantakosta Bukit Zaitun sama-sama dibangun pada era 1960-an. Seiring waktu, kedua rumah ibadah itu diperluas mengikuti pertumbuhan jemaah. Namun yang paling menarik bukan sekadar arsitektur yang berhimpitan, melainkan praktik toleransi yang dijalani secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sekretaris panitia pembangunan Masjid Da’wah Wanita, Arman, mengenang bagaimana solidaritas lintas iman sudah tumbuh sejak puluhan tahun lalu. Pada akhir 1990-an, ketika masjid menggelar kegiatan zakat fitrah di bulan Ramadan, pihak gereja turut memberikan bantuan berupa beras, mi instan, hingga pakaian layak pakai.
“Nilai toleransi sudah berkembang sejak dulu. Kami tidak pernah saling mengusik, apalagi sampai konflik,” ujar Arman.
Kedekatan fisik kedua bangunan sempat menimbulkan tantangan praktis, seperti suara musik dari kegiatan ibadah gereja yang terdengar ke masjid. Namun alih-alih memicu gesekan, komunikasi justru menjadi solusi. Pengurus masjid dan gereja saling berkoordinasi untuk menjaga kenyamanan masing-masing. Masjid pun mematikan radio setelah salat agar tidak mengganggu ibadah di gereja.
“Kami saling menjaga dan membangun komunikasi yang baik sampai sekarang,” tambah Arman.
Dari pihak gereja, pimpinan jemaat Gereja Pantakosta Bukit Zaitun, Pdt. Ir. David Agus Setiawan, M.A., M.Th., menuturkan bahwa sejak gereja berdiri sekitar 65 tahun lalu, tidak pernah terjadi gangguan berarti dengan kegiatan ibadah di masjid. Bahkan, di masa awal berdirinya masjid, ketika belum tersedia pompa air, gereja berinisiatif menyalurkan air melalui selang untuk kebutuhan wudhu jemaah.
“Kami berbagi air untuk wudhu. Itu hal kecil, tapi bagi kami itu bentuk persaudaraan,” kata David.
Ia berharap kisah kebersamaan itu tidak hanya menjadi cerita lokal, tetapi juga inspirasi nasional tentang bagaimana solidaritas lintas iman dapat dipelihara dalam praktik, bukan sekadar jargon.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!