Mantan Presiden Prancis: Jangan Samakan Semua Muslim Sebagai Teroris

Paris – Mantan Presiden Prancis Francois Hollande memperingatkan bahwa para teroris tidak boleh dikaitkan dan disamakan dengan Muslim. Menurutnya, para teroris bukanlah muslimin.

“Jangan samakan antara teroris ini dengan Muslim. Itu akan menjadi kesalahan yang akan menjerumuskan kita ke dalam konflik yang tidak ingin kita sentuh,” kata Francois Hollande, sebagaimana dikutip anadolu agency, Minggu (1/11).

‚ÄúPara teroris ini sebenarnya ingin menciptakan perang antaragama,” lanjutnya.

Hollande menyoroti serangkaian serangan yang terjadi pada Kamis di kota-kota Prancis Nice, Avignon dan Lyon, dan Konsulat Prancis di Jeddah, Arab Saudi.

Serangan Nice dilakukan oleh Brahim Aouissaoui, seorang pria kelahiran Tunisia yang menikam dua wanita dan satu pria di Basilika Notre Dame de l’Assumption di Nice.

Salah satu wanita itu tewas setelah digorok di tenggorokannya. Polisi menangkap Aouissaoui pagi itu, dia kini dirawat di rumah sakit dengan luka tembak.

Jaksa anti-terorisme Jean-Francois Ricard mengatakan kepada harian Le Monde setelah serangan itu bahwa Aouissaoui memiliki pisau dengan bilah 17 cm yang ditemukan di dalam tasnya.

Aouissaoui, 21, mendarat di pulau Lampedusa Italia pada 20 September sebelum tiba di daratan Italia di Bari pada 9 Oktober, dan kemudian melintasi perbatasan untuk masuk ke Prancis.

Dokumentasi dari Palang Merah Prancis membantu mengungkap fakta tentang pergerakan tersangka, karena dia tidak diketahui oleh aparat sebelum hari Kamis.

Orang kedua ditangkap pada Kamis malam terkait serangan itu. Pria 47 tahun itu sekarang dalam tahanan polisi, dan dia berinteraksi dengan Aouissaoui pada Rabu menjelang serangan tersebut.

Menteri Dalam Negeri Gerard Darmanin pada Jumat sore mengumumkan penambahan 3.500 pasukan keamanan cadangan dan 3.500 polisi tambahan di negara itu untuk menangani peningkatan kekerasan.

Setidaknya 120 petugas polisi tambahan akan dikerahkan di Nice untuk menjaga keamanan. “Ancaman ada di mana-mana,” kata Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian pada konferensi pers hari Jumat lalu.