Mahasiswa UNS Diajak Pahami Geopolitik dan Perkuat Nasionalisme di Era Digital

SOLO — Perkembangan kecerdasan buatan dan derasnya arus informasi digital membuat mahasiswa dituntut tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan memilah informasi. Generasi muda bahkan diingatkan agar tidak membiarkan algoritma mengambil alih kemampuan mereka dalam menganalisis persoalan.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily saat memberikan pembekalan kepada 11.237 mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Selasa (11/8/2026).

Ace Hasan mengatakan masa kuliah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai proses untuk mendapatkan pengetahuan dan ijazah. Perguruan tinggi harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun karakter, memperluas wawasan, melakukan riset, memperkuat jejaring, serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membangun kemampuan berpikir kritis, kemampuan membaca, kemampuan melakukan riset, dan kemampuan menganalisis persoalan secara mendalam,” ujar Ace Hasan.

Menurutnya, mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan membaca perubahan lingkungan strategis dunia. Dinamika global saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan persaingan geopolitik antarnegara, tetapi telah merambah ke geoekonomi, teknologi, penguasaan data, keamanan siber, hingga perebutan pengaruh di ruang digital.

Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan, lanjut Ace Hasan, memberikan kemudahan sekaligus tantangan baru. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi kecepatan tersebut harus dibarengi kemampuan melakukan verifikasi.

“Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat kedalaman berpikir kita menjadi dangkal. Kita tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kita kepada algoritma,” tegasnya.

Pahami Posisi Strategis Indonesia

Ace Hasan kemudian mengajak mahasiswa memahami posisi Indonesia dalam peta geopolitik dunia. Secara geografis, Indonesia berada di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik.

Posisi tersebut memberikan peluang besar, tetapi sekaligus menghadirkan tanggung jawab untuk memperkuat ketahanan nasional. Indonesia juga memiliki sumber daya alam yang melimpah yang harus dikelola secara optimal agar menjadi kekuatan ekonomi sekaligus meningkatkan posisi tawar Indonesia di tengah persaingan global.

“Jika kita ingin memahami dan memenangkan persaingan geopolitik, kita harus membangun kekuatan nasional dan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa,” kata Ace Hasan.

Ia mengingatkan mahasiswa bahwa kekayaan Nusantara sejak dahulu telah menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian berbagai bangsa asing. Karena itu, generasi muda perlu memahami dinamika global agar sumber daya strategis Indonesia dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kepentingan nasional.

Bonus Demografi Menjelang 2045

Tantangan lain yang disoroti Ace Hasan adalah bonus demografi. Generasi muda yang saat ini memenuhi ruang-ruang perguruan tinggi akan menjadi salah satu kelompok penting ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan pada 2045.

Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu apakah kondisi tersebut akan menjadi modal pembangunan atau justru persoalan baru.

“Bonus demografi hanya akan menjadi bonus apabila kita mampu membangun kualitas sumber daya manusia. Jika kita gagal membangun kualitas SDM, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demografi,” jelasnya.

Karena itu, mahasiswa UNS didorong memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kompetensi intelektual, profesionalisme, kemampuan beradaptasi, jejaring, dan karakter.

Ace Hasan menilai perpaduan antara SDM unggul dan kemampuan mengelola sumber daya alam secara baik akan menjadi salah satu modal penting bagi Indonesia untuk mencapai cita-cita sebagai negara maju.

Ketahanan Nasional Bukan Hanya Soal Militer

Dalam pembekalannya, Ace Hasan juga mengingatkan mahasiswa mengenai tantangan perubahan iklim dan potensi bencana alam. Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki kerentanan terhadap berbagai bencana sehingga kesiapsiagaan dan kemampuan mitigasi perlu terus diperkuat.

Ia menegaskan bahwa ketahanan nasional memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar kekuatan pertahanan dan militer.

“Ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer. Ketahanan nasional juga ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, pendidikan, kesehatan, energi, pangan, budaya, informasi, serta kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.

Karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa kontribusi terhadap ketahanan nasional dapat dilakukan melalui berbagai bidang sesuai kompetensi masing-masing.

Nasionalisme di Era Global

Di tengah keterhubungan dunia yang semakin terbuka, Ace Hasan meminta mahasiswa tidak kehilangan identitas kebangsaan. Menurutnya, generasi muda harus mampu menjadi bagian dari masyarakat global tanpa meninggalkan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Mahasiswa UNS didorong memiliki kompetensi dan wawasan internasional, tetapi tetap memiliki kebanggaan terhadap identitas nasional.

Nasionalisme, kata Ace Hasan, tidak cukup diwujudkan melalui simbol atau slogan. Semangat kebangsaan harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata melalui ilmu pengetahuan, profesionalisme, inovasi, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Ia pun mengajak mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Generasi muda, menurutnya, harus berani mengambil peran sebagai pelaku sekaligus penggerak perubahan. Dengan kemampuan intelektual, literasi digital, integritas, dan wawasan kebangsaan yang kuat, mahasiswa diharapkan mampu ikut menentukan arah masa depan Indonesia.