Mahasiswa UMMAH Dibekali Cara Tangkal Radikalisme dan Kejahatan Digital

Aceh – Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri mengingatkan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH) Kabupaten Bireuen agar tidak mudah terpengaruh propaganda ekstrem, intoleransi, dan radikalisme yang beredar melalui ruang digital.

Pesan tersebut disampaikan Yulhendri saat memberikan pembekalan kepada peserta Masa Ta’aruf dan Baitul Arqam UMMAH, Senin (14/9/2026). Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan dan kemampuan berpikir kritis.

“Saya menegaskan bahwa mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan yang tidak hanya dituntut unggul akademik, tetapi harus memiliki ketahanan moral dan kepedulian sosial yang tinggi. Dalam kehidupan kampus yang majemuk, kalian harus mampu membedakan antara berbeda pendapat dan bermusuhan. Perbedaan suku, agama, maupun pandangan politik adalah hal wajar, sehingga jangan pernah menjadikannya alasan untuk saling membenci,” ujar Yulhendri.

Menurut dia, propaganda radikal kerap memanfaatkan emosi dan disebarkan secara terselubung melalui media sosial. Karena itu, mahasiswa diminta membangun kebiasaan berdialog secara sehat serta melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi.

Yulhendri mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun kebencian. Kemampuan berpikir kritis, kata dia, harus berjalan beriringan dengan sikap menghormati keyakinan dan pandangan orang lain.

“Berpikir kritis bukan berarti membenci, dan memiliki keyakinan teguh bukan berarti boleh memaksakan kehendak kepada orang lain apalagi menggunakan kekerasan. Saya mengharapkan mahasiswa mampu menjadi agen toleransi dan agen literasi digital yang secara aktif menjaga kondusivitas ruang siber,” tegasnya.

Waspadai Judi Online hingga Phishing

Selain ancaman radikalisme, pembekalan mahasiswa baru tersebut juga membahas penyalahgunaan narkoba, kejahatan siber seperti phishing, serta judi online.

Yulhendri meminta mahasiswa tidak mengorbankan masa depan hanya karena terjerumus dalam aktivitas yang dapat merusak kehidupan akademik maupun sosial.

“Uang kuliah bukan modal judi, uang kiriman orang tua bukan untuk taruhan, dan masa depan kalian terlalu berharga untuk dipertaruhkan,” katanya.

Sementara terkait phishing, mahasiswa diminta memahami langkah sederhana untuk melindungi data pribadi, yakni STOP, CEK, JANGAN KLIK, dan LAPORKAN. Mereka juga diingatkan tidak memberikan PIN, OTP, maupun kata sandi pribadi kepada orang lain.

Sebagai panduan bagi mahasiswa dalam kehidupan sosial dan aktivitas digital, Yulhendri menyampaikan lima hal yang harus dihindari. Pertama, jangan membenci karena perbedaan. Kedua, jangan mudah terpengaruh propaganda radikal. Ketiga, jangan mencoba NAPZA. Keempat, jangan bermain judi online. Kelima, jangan membagikan data pribadi sembarangan.

Sebaliknya, mahasiswa didorong untuk menjalankan lima kebiasaan positif, yakni menghormati perbedaan, menyaring informasi sebelum membagikannya, memilih pergaulan yang positif, memanfaatkan teknologi untuk berkarya, serta melaporkan jika menemukan indikasi kejahatan.

“Sebaliknya, lima hal yang harus dilakukan adalah hormati perbedaan, saring informasi sebelum sharing, pilih pergaulan positif, manfaatkan teknologi untuk berkarya, serta laporkan jika menemukan indikasi kejahatan,” jelas Yulhendri.

Pembekalan tersebut ditutup dengan penyerahan plakat kenang-kenangan dari Kapolres Bireuen kepada Rektor UMMAH Dr. H. Muharrir Asy’ari, Lc., M.Ag. Penyerahan itu menjadi simbol sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman sekaligus memperkuat ketahanan mahasiswa menghadapi berbagai ancaman di ruang digital.

Yulhendri kemudian menutup pembekalannya dengan pesan agar mahasiswa menjadikan prestasi dan karya sebagai cara untuk menunjukkan jati diri.

“Saya berpesan jika ingin dikenal, bangunlah prestasi, dan jika ingin berbeda, berbedalah dalam karya, bukan dalam kebencian. Beda itu biasa, damai itu pilihan, dan masa depan bangsa berada di tangan kalian,” pungkasnya.