Lebaran Jadi Ruang Silaturahmi Lintas Iman di Kalimanggis Temanggung

Temanggung – Keberagaman bukan sekadar identitas bagi warga Desa Kalimanggis, Kabupaten Temanggung, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Terletak di ujung timur wilayah tersebut, desa ini dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang agama yang hidup berdampingan dengan rukun dan saling menghormati.

Semangat toleransi itu terasa semakin kuat saat momen hari besar keagamaan, termasuk Hari Raya Idul Fitri. Lebaran di Kalimanggis bukan hanya milik umat Muslim, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi seluruh warga untuk mempererat tali silaturahmi.

Salah satu gambaran nyata terlihat di keluarga Mulyanto, yang menganut agama Buddha. Setiap Idul Fitri, rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan sanak saudara dan kerabat dari berbagai latar belakang agama.

“Setiap Lebaran kami sudah terbiasa menerima tamu untuk bersilaturahmi, termasuk sungkem kepada yang lebih tua. Yang datang bukan hanya keluarga Muslim, tetapi juga dari Buddha, Kristen, dan Katolik,” ujar Mulyanto, Senin (23/3/2026).

Tradisi ini, lanjutnya, telah berlangsung selama puluhan tahun. Selain menjadi ajang berkumpul, momen tersebut juga dimanfaatkan untuk berbagi cerita dan mempererat hubungan kekeluargaan tanpa sekat perbedaan keyakinan.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Kalimanggis, Didik Agus Susilo. Ia menegaskan bahwa toleransi di desanya bukan sesuatu yang baru, melainkan warisan nilai yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Menurutnya, keberagaman agama yang ada justru menjadi kekuatan utama dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Masyarakat di sini hidup berdampingan dengan rukun. Mereka saling menghormati perbedaan dan aktif menjaga keharmonisan. Keberagaman sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” jelas Didik.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi fondasi kuat dalam menciptakan lingkungan yang damai, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.

Kisah Desa Kalimanggis menjadi cerminan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang tumbuh dari kesadaran bersama. Di tengah perbedaan, masyarakat justru menemukan titik temu dalam nilai kemanusiaan dan kebersamaan.