Lawan Narasi Khilafah dengan Konsep Islam Rahmatan Lil Alamin

Pandeglang – Khilafah adalah sebuah konsep kenegaraan yang berdasarkan syariat Islam. Konsep itu menginginkan (bercita-cita) bahwa seluruh umat muslim disatukan dalam satu system kekhalifahan atau pemerintahan yang tunggal. Kelompok radikal tatkala kerap mempromosikan narasi ilusi khilafah sebagi solusi segala problem kebangsaan, termasuk solusi atas ancaman resesi ekonomi.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA), Dr. H. Jihaduddin, M.Pd, turut menanggapi narasi yang sedang berkembang liar di jagad mesdia sosial tersebut. Menurutnya narasi ilusi khilafah sebagai solusi segala permasalahan bangsa, merupakan hasil dari kekeliruan atas sempitnya pola pikir dan pengetahuan. Hal ini kian memprihatinkan  tatkala kelompok tersebut mulai menjual ketakutan resesi ekonomi.

“Kenapa yang diangkat hanya soal itu itu saja? Karena mereka hanya melihat dari sisi, bagaimana sebuah pemerintahan itu semestinya memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Dia menganggap yang bisa mensejahterakan itu saat ini hanya dengan konsep khilafah, padahal tidak seperti itu,,” ujar Dr. H. Jihaduddin, di Pandeglang, Sabtu (26/11/2022).

Dirinya melanjutkan, penerapan sistem kekhilafahan menurutnya bukanlah solusi mutlak sebagaimana yang dipromosikan termasuk dalam hal ekonomi. Namun dirinya menganggap ada cara lain yang bisa diaplikasikan dalam masyarakat untuk menyelamatkan bangsa dari berbagai problem kebangsaan.

“Tentunya dengan konsep Islam yang rahmatan lil alamin yang saling mendukung. Kalau semuanya saling memahami dan menolong  tentunya nggak mungkin akan terjadi juga (dampak resesi),” tutur Kyai yang akrab disapa Jihad ini.

Jihad menjelaskan, prinsipnya ketika semua umat menyadari betul bahwa fungsi agama adalah untuk menyelesaikan berbagai masalah, maka diyakini kondisi kebangsaan akan baik-baik saja. Selain itu juga umat meyakini dengan baik ajaran agama dan keyakinannya, tidak setengah-setengah. Sehingga dalam Islam, pemahaman konsep Islam rahmatan lil alamin itulah yang perlu dipelajari dan diperdalam.

“Saya melihat dari hampir 150 pemuka agama dunia di acara Religion Forum (Forum Agama) atau R20 di rangkaian G20 di Bali kemarin, mereka meyakini bahwa fungsi agama adalah untuk menyelesaikan masalah apapun. Bukan untuk menjadikan konflik. Saya kira semuanya akan baik-baik saja,” ujar Kyai Jihad yang hadir di Forum tersebut mewakili ormas Islam PBMA ini.

Sehingga, pria yang juga merupakan Wakil Rektor Universitas Mathla’ul Anwar Banten ini kembali menegaskan, bahwa khilafah bukan solusi untuk problem kebangsaan. Namun, pemerintahan bersih dan masyarakat yang menyadari dengan baik sejarah pembentukan bangsa ini merupakan kunci dalam menghadapi berbagai permasalahan.

“Jadi saya sepakat bahwa bukan persoalannya khilafahnya, tapi pemerintah manapun kalau dia sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, kesepakatan bangsa yang berlaku, saya kira semuanya akan baik dan bisa diatasi,” ujar Jihad.

Namun, menjadi angin segar tersendiri ketika Jihad menjelaskan, kini masyarakat sudah tidak begitu tertarik dengan isu khilafah. Jihad menilai, masyarakat telah bosan dan kian enggan menanggapi narasi-narasi liar khilafah yang terus-menerus bergulir disetiap kesempatan.

“Kalau menurut saya, sekarang masyarakat sudah tidak minat dengan narasi seperti itu. Masyarakat sudah terbiasa. Kalaupun penyebar narasi saya rasa tidak akan pernah berhenti. Tetapi masyarakat sudah biasa saja menanggapinya,” imbuhnya.

Sehingga, dirinya menilai kondisi masyarakat yang sudah tidak tertarik dengan isu khilafah menjadi kesempatan baik bagi semua pihak termasuk tokoh agama untuk lebih massif menanamkan nilai aqidah dan akhlak kepada masyarakat sebagai hal yang bisa aplikasikan dalam kehidupan sosial.

“Jadi agama itu bukan teori tapi harus diaplikasikan. Saya selalu sampaikan dan mendorong bagaimana pendekatan dan pemahaman agama itu lebih kepada praktek, bukan teori. Dan juga tentang kesalehan social. Dan bukan hanya tentang kesalehan pribadi, karena kebahagiaan itu menurut Allah SWT tidak sendiri, namun bersama-bersama,” ujarnya.

Begitu juga di Mathla’ul Anwar yang menurutnya selalu menanamkan tidak hanya nilai keagamaan yang rahmatan lil alamin saja, namun juga nilai ke-Indonesiaan tentang bagaimana menghargai sejarah perjuangan para founding fathers, serta menjaga dan merawat Indonesia sebagai rumah milik keberagaman yang ada didalamnya.

“Tentang sejarah Mathlaul Anwar, perjuangan founding father kita dalam pendirian negara ini, lalu tentang ke-Indonesiaan, tentang bagaimana bangsa ini harus kita rawat dan jaga bersama, bahwa itu semua adalah milik kita,” ujar Kyai Jihad mengakhiri.