Lampung – Korem 043/Gatam terus memperkokoh fondasi kebangsaan melalui upacara bendera bulanan yang berlangsung di lapangan Kompi Senapan B Yonif 143/TWEJ, Bandar Lampung, sebagai upaya nyata mencegah masuknya paham intoleransi dan radikalisme. Kegiatan rutin setiap tanggal 17 ini menjadi sarana krusial untuk memupuk disiplin, nasionalisme, dan dedikasi para prajurit serta PNS di lingkungan TNI AD agar tidak mudah goyah oleh dinamika lingkungan strategis yang semakin kompleks.
Dalam suasana penuh khidmat, Kasiren Korem 043/Gatam, Kolonel Czi Kurniawan Hartanto, memimpin upacara tersebut dan membacakan pesan-pesan penting mengenai kewaspadaan nasional di tengah gempuran informasi global yang dinamis. Upacara ini dilaksanakan pada Jumat (17/4).
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyoroti tantangan berat yang dihadapi institusi pertahanan, terutama terkait infiltrasi ideologi berbahaya melalui ruang digital yang dapat merusak kerukunan antar komponen bangsa. Dalam amanat yang disampaikan oleh Inspektur Upacara, Panglima menekankan bahwa setiap personil harus memiliki ketahanan mental yang kuat agar tidak terjebak dalam pusaran hoaks dan propaganda radikal.
“Saya mengingatkan ulang agar seluruh prajurit dan PNS TNI benar-benar hati-hati dalam penggunaan media sosial, karena saat ini banyak opini, berita bohong, dan provokasi yang sengaja disebarkan untuk menjadi sumber perpecahan di masyarakat,” tegas Panglima TNI dalam pernyataan tertulisnya. Beliau memandang media sosial sebagai medan tempur persepsi yang harus dikuasai dengan narasi positif dan santun.
Panglima TNI juga mengajak jajarannya untuk proaktif menjaga nama baik institusi dengan menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi dalam setiap penugasan. Ancaman radikalisme seringkali memanfaatkan celah ketidakpuasan sosial, sehingga profesionalisme TNI menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik.
“Saya meminta kalian semua untuk memiliki kepedulian dengan menjawab secara santun setiap kali institusi TNI dirugikan di media sosial, sekaligus terus menyampaikan hal-hal positif yang membangun semangat persatuan,” ujar Jenderal Agus Subiyanto. Baginya, setiap personel TNI adalah duta bangsa yang harus mampu menetralisir potensi konflik yang dipicu oleh informasi menyesatkan.
Lebih lanjut, Panglima TNI menetapkan lima pedoman utama yang harus dipegang teguh oleh seluruh prajurit untuk membangun kewaspadaan terhadap ancaman di wilayah masing-masing. Beliau menekankan pentingnya meningkatkan keimanan sebagai tameng utama terhadap pengaruh pemahaman ekstremis yang menyimpang.
“Saya instruksikan agar kita semua mengikuti perkembangan lingkungan strategis secara cermat, meningkatkan ketelitian dalam bertindak, serta selalu taat hukum demi menjaga kehormatan TNI di mana pun berada,” tuturnya. Kedisiplinan yang diajarkan dalam lingkungan militer ini diharapkan menjadi model bagi masyarakat luas, terutama institusi pendidikan, dalam menciptakan ekosistem yang resisten terhadap intoleransi.
Sebagai penutup, Panglima TNI menegaskan komitmennya untuk membangun TNI yang profesional, responsif, integratif, modern, dan adaptif atau yang dikenal sebagai TNI PRIMA. Beliau meyakini bahwa dengan sikap bijak dalam menyikapi informasi dan keteguhan dalam memegang Sapta Marga, prajurit TNI akan selalu mampu menjadi pionir dalam menjaga kedaulatan NKRI dari segala bentuk ancaman, baik terorisme maupun radikalisme.
Upacara ini pun berakhir dengan semangat yang diperbaharui, di mana seluruh peserta upacara bertekad untuk menjadi garda terdepan yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dalam memilah informasi demi keutuhan bangsa dan negara. Indonesia yang damai hanya bisa terwujud jika setiap individu memiliki kesadaran tinggi untuk menolak segala bentuk provokasi yang merusak tatanan sosial.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!