Komnas PA Banten Soroti Meningkatnya Ancaman Child Grooming, Gadget, hingga Radikalisme pada Anak

Serang – Perlindungan anak di Provinsi Banten menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain masih tingginya kasus kekerasan fisik dan seksual, anak-anak kini juga dihadapkan pada ancaman baru berupa kejahatan siber, eksploitasi melalui media sosial, hingga potensi paparan paham radikalisme yang berkembang di ruang digital.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Provinsi Banten, Hendry Gunawan, mengatakan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak masih ditemukan sepanjang satu tahun terakhir. Kasus yang muncul mulai dari perundungan di lingkungan sekolah, kekerasan seksual oleh orang terdekat, eksploitasi ekonomi, perdagangan anak, hingga berbagai tindak kejahatan berbasis internet.

Menurut Hendry, perkembangan teknologi menghadirkan pola ancaman yang semakin sulit dideteksi. Praktik child grooming, eksploitasi seksual melalui media sosial, serta penyebaran konten bermuatan kekerasan menjadi persoalan yang harus diantisipasi bersama.

“Fenomena child grooming, eksploitasi seksual melalui media sosial, penyebaran konten bermuatan kekerasan, serta berbagai bentuk kejahatan siber yang menyasar anak menjadi ancaman baru yang tidak boleh dianggap remeh,” ujar Hendry dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).

Ia menegaskan bahwa ancaman terhadap anak tidak lagi hanya muncul di ruang publik. Rumah, sekolah, lingkungan pergaulan, hingga telepon genggam kini dapat menjadi pintu masuk berbagai bentuk kekerasan. Karena itu, perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat penegak hukum, melainkan memerlukan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

Hendry menilai penanganan kasus anak juga harus diarahkan pada proses pemulihan jangka panjang. Menurutnya, Rumah Aman yang telah tersedia di delapan kabupaten/kota serta tingkat provinsi perlu dioptimalkan sebagai pusat rehabilitasi, pembinaan, dan pendampingan psikososial, bukan sekadar tempat perlindungan sementara.

“Rumah Aman yang telah tersedia di delapan kabupaten/kota dan juga di provinsi harus dimaksimalkan fungsinya, bukan sekadar sebagai tempat perlindungan sementara, tetapi menjadi pusat pembinaan berkelanjutan,” katanya.

Selain persoalan kekerasan, Komnas PA Banten turut mengingatkan meningkatnya risiko paparan paham radikalisme dan ekstremisme pada anak. Hendry menilai kondisi tersebut sering berawal dari penggunaan internet tanpa pengawasan, lingkungan pergaulan yang kurang kondusif, lemahnya kontrol orang tua, serta rendahnya literasi digital.

Ia menegaskan bahwa anak yang terpapar paham radikal tidak seharusnya diberi stigma sebagai pelaku, melainkan dipandang sebagai korban yang memerlukan perlindungan, pendampingan, dan rehabilitasi secara menyeluruh.

“Pembinaan terhadap anak-anak tersebut harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan keluarga, psikolog, pekerja sosial, pendidik, tokoh agama, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, psikolog Dian mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan juga menjadi tantangan serius bagi tumbuh kembang anak. Menurutnya, ketergantungan terhadap gawai tidak hanya ditandai oleh lamanya waktu penggunaan, tetapi juga perubahan perilaku yang muncul.

“Banyak orang tua mengeluhkan anak yang sulit lepas dari gadget. Bahkan, tidak sedikit anak yang menangis, marah, atau tantrum saat perangkat tersebut diambil,” kata Dian.

Ia menjelaskan bahwa anak yang mengalami kecanduan gadget umumnya kehilangan minat terhadap aktivitas di luar layar, lebih memilih bermain gawai dibanding berinteraksi dengan keluarga maupun teman, sulit berkonsentrasi, serta menunjukkan emosi berlebihan ketika akses terhadap perangkat dibatasi.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Dian menyarankan orang tua tidak melakukan pelarangan secara mendadak. Penggunaan gadget sebaiknya dikurangi secara bertahap sambil memperbanyak aktivitas positif seperti bermain di luar rumah, berolahraga, membaca buku, menggambar, atau melakukan kegiatan kreatif bersama keluarga.

Menurutnya, semakin banyak interaksi dan aktivitas yang melibatkan anak secara langsung, semakin besar peluang mereka membangun kemampuan sosial, komunikasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap layar digital.