Sipan Khalil, seorang wanita muda penyintas dari komunitas Yazidi, sebuah entitas suku kurdi kuno di Iraq Utara, kembali membuka tabir kekejaman yang terjadi di dalam lingkar terdalam kelompok Islamic State (ISIS). Dalam kesaksian, Sipan merinci penderitaannya saat menjadi tawanan di rumah mendiang pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.
Sipan, yang diculik saat masih kanak-kanak, mengungkapkan bahwa ia ditahan dan dijadikan budak di bawah pengawasan langsung Nisrine Assad Ibrahim, atau yang lebih dikenal sebagai Umm Sayyaf, salah satu istri dari Al-Baghdadi.
Tragedi kemanusiaan ini bermula saat ISIS melancarkan serangan brutal ke kota Shingal (Sinjar) di Provinsi Nineveh, yang berujung pada penculikan lebih dari 6.400 wanita dan anak-anak Yazidi. Para korban tersebut dipaksa menjadi budak seksual dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan fisik.
“Awalnya saya ditahan di kediaman wakil Abu Bakr al-Baghdadi. Setelah dia tewas akibat serangan bom, istri Al-Baghdadi mengambil alih dan membawa saya ke rumahnya. Di sana, saya dipaksa melayaninya mengurusi pekerjaan rumah tangga serta menjaga anak-anak mereka,” ungkap Khalil mengenang masa kelam tersebut.
Dalam laporan yang dirilis oleh Rudaw, Sipan menceritakan bagaimana Umm Sayyaf memainkan peran sentral dalam “mengelola” para tawanan wanita di rumah tersebut. Alih-alih menunjukkan empati sesama perempuan, Umm Sayyaf disebut bertindak brutal dan secara aktif memfasilitasi perbudakan seksual yang dilakukan suaminya.
“Dia (Umm Sayyaf) bukan hanya sekadar istri yang patuh. Dia adalah orang yang mengunci pintu, yang memastikan kami tidak bisa lari, dan yang menyerahkan kami kepada Al-Baghdadi,” ungkap Sipan dalam narasi yang juga diangkat oleh Middle East Eye.
Sipan menggambarkan kehidupan di rumah tersebut sebagai mimpi buruk tanpa akhir. Ia dan gadis-gadis Yazidi lainnya dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga berat di siang hari dan mengalami kekerasan seksual di malam hari. Sosok Umm Sayyaf, menurut Sipan, memiliki kendali penuh atas nasib para budak di dalam rumah tangga tersebut.
Kesaksian Sipan ini kembali mencuat ke publik sebagai bagian dari upaya berkelanjutan komunitas Yazidi untuk menuntut keadilan internasional. Mereka mendesak agar para pelaku, termasuk anggota keluarga inti pemimpin ISIS yang masih hidup atau ditahan, diadili atas tuduhan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hingga kini, nasib ribuan wanita dan anak-anak Yazidi yang hilang sejak serangan Sinjar tahun 2014 masih menjadi luka mendalam bagi komunitas tersebut. Suara Sipan Khalil mewakili jeritan ribuan korban yang menuntut dunia tidak melupakan kejahatan yang pernah terjadi di masa kelam tersebut.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!