DAMASKUS — Pemerintah Suriah secara resmi menutup kamp penahanan Al-Hol dan mulai merelokasi bertahap keluarga yang diduga memiliki keterkaitan dengan milisi ISIS ke kamp Akhtarin, bagian utara provinsi Aleppo, Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan krusial ini diambil menyusul rentetan kekacauan serta kerusuhan di dalam kamp yang membuat otoritas kewalahan dalam mengelola keamanan dan ketertiban.
Dilansir dari Al Jazeera, keluarga-keluarga eks-penghuni Al-Hol telah mulai berdatangan dan didata di lokasi. Pemerintah Suriah mengklaim bahwa fasilitas penampungan yang baru dirancang untuk memberikan kondisi kehidupan yang jauh lebih layak dan aman dibandingkan dengan Al-Hol. Selama ini, Kamp Al-Hol memang dikenal memiliki reputasi buruk sebagai fasilitas penahanan yang padat, dan rawan konflik.
“Otoritas (Suriah) mengungkapkan kamp ini lebih baik kondisinya karena memiliki pendingin di dalam tenda, air bersih, bahkan Wi‑Fi,” jelas jurnalis Al Jazeera, Heidi Pett, dalam videonya, pada 18 Februari 2026.
Langkah penutupan ini menandai titik balik penting dalam penanganan ribuan keluarga eks-kombatan di kawasan tersebut. Kondisi kamp yang terus memburuk akibat kerusuhan internal selama bertahun-tahun pada akhirnya memaksa pemerintah mengambil tindakan tegas untuk membubarkan konsentrasi massa di Al-Hol demi mencegah eskalasi ancaman keamanan yang lebih luas.
Sebelumnya, Kamp Al-Hol berada di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Namun, dinamika konflik memaksa SDF menyerahkan kontrol fasilitas tersebut sepenuhnya kepada Pemerintah Suriah. Sayangnya, fase transisi kekuasaan ini justru memicu kekacauan. Memanfaatkan celah keamanan, jaringan penyelundup dan kerabat tahanan nekat melarikan sejumlah penghuni, sehingga situasi keamanan di kawasan kamp menjadi sangat tidak terkendali.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!