Ketika Mantan Teroris Bicara Penanganan Terorisme

Palembang — Mantan terpidana kasus terorisme, Ali Fauzi memaparkan pengalamanya selama bergabung dengan kelompok radikal terorisme kepada 80 orang peserta Sosialisasi Standar Operasional (SOP) Penanganan Terorisme Di Lembaga Pemasyarakatan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Lapas, Akademisi dan media, hari ini, Kamis (17/11/2016) di hotel The Daria Palembang.

“Saya dikenalkan paham radikal terorisme oleh kakak saya sendiri yang bernama Amrozi, sewaktu di malaysia saya mengenal DII, dari sanalah kemudian saya banyak bertemu dengan pemimpin-pemimpin kelompok radikal terorisme dan memulai petualangan.”

Menurut Ali Fauzi, keberadaanya saat ini ditengah – tengah peserta sosialisasi bukan tanpa melalui proses, dan proses tersebut dilalui dengan jalan yang begitu panjang dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia mengakui bahwa proses penyadaran terhadap dirinya tidak berlangsung seperti lazimnya, “jika sebagian orang membuat rumusan dulu baru dipraktek, saya kebalikannya; saya praktek dulu baru membuat rumusan.”

Baginya, problem yang juga menjadi tantangan dewasa ini adalah radikalisme yang telah menjadi seperti penyakit komplikasi, butuh penanganan dari orang yang pernah terlibat langsung dalam jaringan, karena proses radikalisme lebih banyak terjadi lewat peran friendship dan kinship (persahabatan dan kekeluargaan). Begitu juga sebaliknya, untuk menangani para napi teroris tersebut, dibutuhkan pendekatan melalui pertemanan dan kekeluargaan.

Pria asli Lamongan ini juga menyinggung tentang orang-orang yang saat ini banyak yang mengkritik program Deradikalisasi, padahal Deradikalisasi tidaklah sesederhana yang dibayangkan orang, butuh sentuhan dan pendekatan khusus terhadap para napi teroris maupun orang-orang yang berpaham radikal tersebut, karena itu menyangkut pikiran dan hati, tidak bisa sembarangan dalam menanganinnya.

Ia juga menceritakan pengalaman pribadinya yang bertaubat salah satunya lantaran kebaikan aparat kepolisian Indonesia. Ia ingat, aparat kepolisian memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan ia didorong untuk kuliah lagi hingga akhirnya ia lulus S2 di Surabaya.

“Semester pertama kuliah itu saya seperti di neraka, karena saya harus berhadapan dengan dosen-dosen yang pola pikirnya beda dengan saya. Namun lama-lama saya bisa menikmati dan akhirnya pemikiran saya terbuka,” terangnya.

Ia menekankan bahwa penanganan terorisme perlu melibatkan orang-orang yang pernah terlibat langsung dalam kelompok terorisme, sehingga mereka dapat berbicara dari hati ke hati.