Mamuju – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sulawesi Barat menekankan pentingnya perubahan peran generasi muda dari kelompok rentan menjadi kekuatan utama dalam menjaga persatuan dan menangkal paham radikalisme. Pemuda dinilai harus tampil sebagai agen perubahan sekaligus penjaga stabilitas sosial, termasuk di ruang digital.
“Generasi muda di daerah tersebut perlu didorong menjadi garda terdepan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, mulai dari radikalisme, penyebaran hoaks, hingga polarisasi sosial yang kian menguat di era digital,” ujar Kepala Kesbangpol Sulbar, Muhammad Darwis Damir.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan pemberdayaan kemitraan polisi dan masyarakat melalui penguatan wawasan kebangsaan yang digelar Kepolisian Daerah Sulawesi Barat di SMKN 1 Tapalang Barat, Kabupaten Mamuju, Minggu (12/4/2026). Menurutnya, paradigma lama yang menempatkan pemuda sebagai objek yang mudah terpapar ideologi ekstrem harus diubah.
Ia menilai generasi muda justru memiliki potensi besar menjadi penggerak perdamaian. Pemuda diharapkan mampu menghadirkan inovasi positif, menjembatani perbedaan, serta meredam konflik dan ujaran kebencian, termasuk yang berkembang melalui media sosial.
Untuk memperkuat peran tersebut, Kesbangpol Sulbar mendorong penguatan karakter melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, literasi digital juga dinilai penting agar generasi muda mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Pemuda juga diajak aktif dalam dialog lintas kelompok guna memperkuat toleransi serta menolak penyebaran hoaks dan propaganda radikal. Keterlibatan dalam kegiatan sosial maupun organisasi kepemudaan berbasis nilai kebangsaan juga dianggap sebagai langkah konkret membangun ketahanan masyarakat.
Dalam konteks daerah, Kesbangpol Sulbar menjalankan pendekatan preventif, edukatif, dan kolaboratif. Upaya tersebut mencakup deteksi dini potensi konflik, pembinaan ideologi secara berkelanjutan, serta sinergi dengan aparat keamanan untuk menjaga stabilitas wilayah.
Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan dengan menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, dan komunitas pemuda. Darwis menegaskan bahwa wawasan kebangsaan harus menjadi fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menyebut wawasan tersebut bertumpu pada empat pilar, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi perisai dalam menghadapi berbagai tantangan ideologi dan disinformasi.
Menurutnya, cinta tanah air tidak cukup diwujudkan dalam slogan, tetapi harus tercermin melalui tindakan nyata seperti menjaga persatuan, menghargai keberagaman, serta berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Darwis menambahkan, penguatan ketahanan bangsa membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, hingga media sosial. Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan mampu menjaga keutuhan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!