Tenggarong — Maraknya perbincangan di media sosial terkait penyebaran paham radikalisme melalui grup-grup digital, baik terbuka maupun tertutup, menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Fenomena ini dinilai berbahaya karena menyasar kelompok generasi muda yang aktif di ruang digital.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Rinda Desianti, mengatakan kemudahan akses informasi di media sosial membuka celah bagi masuknya ideologi radikal ke tengah masyarakat.
Menurut Rinda, anak muda menjadi kelompok paling rentan karena intensitas penggunaan media sosial yang tinggi, ditambah dengan kondisi psikologis yang masih dalam fase pencarian jati diri.
“Jumlah penduduk usia muda cukup besar dan mereka sangat aktif di media sosial. Situasi ini kerap dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyusupkan paham radikalisme,” ujar Rinda saat diwawancarai Poskotakaltimnews, belum lama ini.
Ia menegaskan bahwa radikalisme tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, paham tersebut berkembang secara perlahan melalui cara berpikir dan kepentingan politik tertentu, sehingga upaya pencegahan tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Radikalisme itu bisa hadir dalam bentuk pemikiran, tindakan, maupun agenda politik. Karena itu, penanganannya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” katanya.
Rinda menjelaskan, Kesbangpol Kukar selama ini terus melakukan langkah pencegahan melalui kegiatan konsultasi, pembinaan, dan edukasi kepada masyarakat. Meski menghadapi keterbatasan anggaran pada 2026, pihaknya tetap berupaya menjalankan program yang bersentuhan langsung dengan warga.
Salah satu langkah yang akan diintensifkan kembali adalah pembinaan ke sekolah-sekolah, termasuk keterlibatan pejabat sebagai pembina upacara di tingkat SMA, khususnya di wilayah Tenggarong, Loa Kulu, dan Tenggarong Seberang.
“Sekolah menjadi ruang strategis untuk membangun daya tahan generasi muda terhadap paham-paham menyimpang,” ujarnya.
Selain pengawasan di ruang digital, Rinda juga menekankan pentingnya kewaspadaan di lingkungan tempat tinggal. Hal ini seiring meningkatnya arus pendatang ke Kukar sebagai dampak pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurutnya, peran ketua RT menjadi krusial karena paling memahami kondisi warganya. Pendataan penduduk sementara serta monitoring lingkungan dinilai sebagai bagian penting dari upaya pencegahan radikalisme.
“RT berada di garda terdepan. Mereka bisa mendeteksi lebih dini jika ada aktivitas yang mencurigakan di lingkungan,” tegasnya.
Rinda pun mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial serta tidak ragu melaporkan konten-konten yang terindikasi menyebarkan paham radikal.
“Kalau lingkungan aman dan masyarakat waspada, aktivitas sehari-hari akan berjalan lebih nyaman. Pencegahan radikalisme ini harus dilakukan secara bersama-sama,” pungkasnya.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!