Beranda / Opini / Kesadaran yang Tidak Pernah Terlambat

Kesadaran yang Tidak Pernah Terlambat

Dalam bahasa kampungku ada pepatah yang mengatakan “begatilah idupkaba ndik kaba nga jeme  banyak, mpung gipacak“. Pepatah ini lebih pada nasehat untuk tidak menyia-nyiakan hidup ini. Pepatah itu kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bebas, artinya sebagai berikut; “gunakanlah hidupmu untuk dirimu dan orang banyak selagi kamu masih bisa”. Sangat sederhana, tidak puitis, apalagi provokatif, tetapi sangat tepat ditujukan pada orang-orang yang tersesat jalan hidupnya. Tepat pula bagi orang yang telah terbujuk oleh rayuan seseorang atau kelompok atas nama ideologi guna harapan perbaikan ekonomi dan masa depan.

Ironis memang, bila ada sekelompok orang yang terdiri dari individu bahkan sekeluarga kemudian ikut terpengaruh pada ajakan yang tidak realistik. Mengambang dalam pikiran, tetapi seolah-olah pasti terjadi dan nyata.  Mengorbankan apa saja termasuk kehidupan dan realitas terhadap tujuan yang mereka sendiri tidak tahu tujuan pastinya seperti apa.  Apalagi kumpulan itu terdiri dari orang dengan beraneka usia yang mature agama, dari balita lima tahun, remaja,  sampai nenek-nenek usia 70 tahunan yang dalam kondisi sakit.

Ada di antara mereka yang berangkat dalam kondisi sakit-sakitan. Ada pula yang autis bawaan, ada yang mengalami penyempitan syaraf punggung, dan ada juga yang migrain menahun. Rasa simpati, empati dan perasaan kasihan pasti tumbuh dari siapapun yang beŕdialog dan mendengarkan keluhan hati serta menyimak ungkapan penyesalan mereka. Pada hakekatnya mereka juga manusia biasa yang memiliki atribut cita-cita untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik sama seperti kebanyakan orang. Hanya saja mereka  telah mengunci diri dari dialog dan dogma agama yang universal. Mereka telah digiring oleh ajaran yang sesat, namun secara ekslusif mereka yakini sebagai sebuah kebenaran.

Ini adalah sekilas analisa penulis saat menjemput 18 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung kepada ISIS selama 2 tahun dan telah menjadi korban tipu-tipu ISIS dari Erbil Iraq pada awal Agustus 2017 ini. Dari penjemputan itu penulis mencoba mengambil beberapa catatan yang penting tentang harapan dan janji-janji palsu ISIS yang mereka terima bulat-bulat.

Terhasut Iming-iming Kehidupan yang Lebih Baik

Dari berbagai dialog terungkap bahwa ISIS telah menjanjikan kepada mereka kehidupan yang lebih baik di Iraq dan Suryiah. Mereka dijanjikan gaji yang yang bèsar yang dilekatkan pada oŕang perorang dalam sebuah keluarga. Begitupun jaminan kesehatan. Mereka, ISIS, menjanjikan rumah sakit yang lengkap dan mewah. Dan mereka yang sakit tidak perlu membayar karena negara akan menjamin gratis pembiayannya.

Mereka juga menjanjikan akan mempunyai mata uang sendiri yang akan mengalahkan mata uang negara-negara lain di semenanjung Arab sampai Afrika, sehingga dipastikan ekonomi akan melesat naik. Dan janji lain yang sangat memukau mereka yang tersesat rayuan ISIS adalah janji sistem pemerintahan yang sangat agamais, berbeda dari negara manapun di dunia karena dipimpin oleh seorang khilafah sebagaimana pada jaman kebesaran Rasullullah SAW.

Dengan janji dan iming-iming itu, apa yang didapat oleh ke 28 WNI yang bergabung pada ISIS ini?

Ternyata jauh panggang dari api. Segala janji ISIS hanya isapan jempol belaka. Dalam penuturan mereka. Sejak tiba di Raqqa 2 tahun lalu mereka langsung disambut dengan berbagai penderitaan. Jaminan gaji yang tinggi ternyata bohong belaka. Mereka hanya menggaji keluarga pejuang yang gugur. Salah satu janda keluarga bom Cimanggis diberi US$ 100 sebanyak tiga kali.

Janji fasilitas kesehatan juga tipu-tipu belaka. Salah satu orang tua mereka harus meregang nyawa karena ketiadaan obat-obatan yang seharusnya berlanjut sejak mereka dari Indonesia.  Salah satu WNI ada yang berniat untuk berobat karena kesulitan ekonomi di tanah air, ternyata juga tidak bisa untuk berobat. Jangankan untuk berobat untuk makan saja sangat sulit. Makanan sangat terbatas. Akibatnya mereka kekurangan nutrisi. Penyakit yang dibawa dari Indonesia juga kian parah.

Kasus perkosaan dengan jubah nikah jihad juga terjadi di mana-mana. Salah satu anak WNI yang masih di bawah umur juga diminta untuk melapor apabila sang anak sudah menstruasi. Otak para pasukan itu hanya nafsu birahi dan nafsu membunuh. Norma-norma agama hampir tidak berlaku.

Anak-anak ada yang tenggelam di sungai. Memakan makanan sisa bukanlah suatu pemandangan yang aneh. Kaki kaki anak-anak dan orang dewasa yang berkudis parah juga hal yang biasa. Wanita menstruasi tanpa pembalut itu biasa. Kehidupan seperti jaman pra peradaban. Wanita dijadikan budak seksual. Mereka dijadikan komoditi yang diperjual-belikan. Siapa punya uang lebih akan dapat wanita yang cantik. Keperawanan punya nilai yang sangat tinggi.

Kehidupan layaknya budaya barbar. Hukum positif tidak berlaku. Penguasa adalah dasar hukum. Pemenggalan kepala bukan sekedar isapan jempol dan propaganda. Pelanggaran atas aturan penguasa berujung eksekusi penggorokan. Pernah juga ISIS menipu WNI dengan uang tersisa 7000 USD dengan janji untuk menyeberangkan keperbatasan, menyewakan unta, tetapi hanya akal nulus.

Sekedar berkomunikasi dengan keluarga terasa sulit, karena hanya tempat tertentu yang ada jaringan sinyal. Itupun harus diperebutkan banyak orang. Belum lagi ada larangan untuk berkomunikasi karena takut kebocoran informasi. Sekali lagi pelanggaran atas aturan itu bisa berakibat eksikusi penggorokan. Tidak boleh ada konsep melarikan diri. Bila ISIS mengetahui rencana itu akan berbuntuk pada eksekusi.

Tulisan ini penulis rangkai saat sedang berada di atas pesawat Qatar Airways  QR 956 menuju Jakarta persis di peta berada pada posisi sebelah laut Andaman. Penulis dipercaya negara untuk  membawa  18 WNI tersebut ke pangkuan ibu pertiwi. Ya Allah jadikanlah pekerjaanku ini menjadi amal ibadahku. Ya Allah ya Rabbi selamatkanlah dan lancarkanlah perjalanan kami. Ya Allah sadarkanlah mereka atas kesesatan jalan yang sudah mereka jalani selama 2 tahun ini.

Sungguh tragis nasib mereka. Banyak dari mereka yang dalam keadaan sakit, ada yang skizofrenia, ada yang autis, dan ada yang kena infeksi saluran kemih. Apapun penyebabnya Ya Allah ampunilah mereka. Sembuhkanlah mereka yang sakit secara fisik, begitupun yang sakit psikis. Ya Allah ampunillah kami semua ya Allah. Jadikanlah mereka sebagai duta-duta pencerah bagi WNI lain yang tersesat pikiran seperti mereka dulu. Ya Allah kabulkanlah doa kami dari atas pesawat ini ya Allah Amin.

(Sebuah catatan di atas pesawat membawa para deportan korban ISIS)

Tentang Irjen Pol, Drs. H. Hamidin

Deputi Bidang Kerjasama Internasional, BNPT. Aktif melakukan kajian terkait terorisme dan mengisi dialog dan workshop pencegahan terorisme

Baca Juga

Memahami Myanmar sebagai Sebuah Negara yang Rentan Radikalisme

Ibu Kota Tersepi di Dunia Kalau kita berjalan di tengah ibu kota suatu negara, maka …