Kemenag NTT Gandeng Densus 88, Perkuat Pendekatan Humanis Cegah Radikalisme

Kupang – Upaya pencegahan radikalisme di Nusa Tenggara Timur kini diarahkan pada pendekatan yang lebih kolaboratif dan humanis. Hal ini terlihat dari pertemuan antara Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT, Fransiskus Kariyanto, dengan Kepala Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri, Beni Kusworo, Senin (30/3/2026).

Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Kakanwil itu tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi langkah awal memperkuat sinergi lintas lembaga dalam menghadapi tantangan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).

Dalam dialog yang berlangsung terbuka, kedua pihak sepakat bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup. Pencegahan harus dilakukan sejak hulu melalui edukasi, penguatan nilai keagamaan, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Fransiskus Kariyanto menegaskan bahwa menjaga kerukunan tidak bisa dilakukan secara sektoral. Dibutuhkan kerja sama yang solid agar potensi konflik dapat dicegah sejak dini, bukan sekadar ditangani setelah terjadi.

“Kerukunan adalah fondasi kehidupan berbangsa. Karena itu, kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci agar upaya pencegahan berjalan lebih efektif,” ujarnya.

Menurutnya, peran Kemenag terletak pada pembangunan kesadaran melalui jalur pendidikan, penyuluhan, serta pendekatan kultural yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Senada dengan itu, Beni Kusworo menilai strategi penanggulangan IRET harus menggabungkan pendekatan keras dan lunak secara seimbang. Penegakan hukum tetap penting, namun harus diperkuat dengan edukasi serta kerja sama dengan tokoh agama dan institusi sosial.

“Kami meyakini pencegahan tidak cukup hanya dengan penindakan. Harus ada sentuhan nilai dan kolaborasi agar dampaknya berkelanjutan,” ungkapnya.

Pertemuan ini juga berlangsung dalam suasana menjelang Paskah 2026, menambah makna silaturahmi yang terbangun. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga situasi yang aman dan kondusif di tengah keberagaman masyarakat NTT.

Melalui sinergi ini, kedua pihak berharap dapat merumuskan langkah konkret yang tidak hanya meredam potensi ancaman, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat secara berkelanjutan.