Kelenteng Kong Miao Litang di Kotim Jadi Potret Harmoni Lintas Agama

KOTAWARINGIN TIMUR – Di tengah aktivitas Jalan MT Haryono, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), berdiri Kelenteng Kong Miao Litang yang tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Konghucu, tetapi juga simbol keberagaman dan toleransi yang telah tumbuh selama puluhan tahun.

Tokoh agama Konghucu Kotim, Wenshi Suhardi, mengatakan keberadaan masyarakat Tionghoa di Pulau Borneo telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Berdasarkan catatan sejarah, warga Tionghoa sudah ada di Pulau Borneo ini sejak sebelum Indonesia merdeka,” ujar Wenshi.

Ia menjelaskan, masyarakat Tionghoa dari suku Han datang ke Borneo sejak masa lampau dengan membawa budaya dan ajaran Konghucu yang kemudian berkembang bersama masyarakat setempat.

Menurut Wenshi, pada masa kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa juga berperan sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dengan suku-suku lokal.

“Orang Tionghoa saat itu menjadi mediator antara penjajah dan suku-suku lokal. Mereka yang sudah lebih dulu terasimilasi dengan masyarakat setempat menjadi penghubung yang penting,” katanya.

Perkembangan jumlah umat Konghucu di Kotim kemudian mendorong kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih memadai. Sebelumnya, umat Konghucu dan Buddha beribadah bersama di Tridarma.

Namun, seiring bertambahnya jumlah jemaat, lokasi tersebut tidak lagi mampu menampung kegiatan ibadah.

“Tempat ibadah yang ada tidak lagi bisa menampung umat Konghucu yang terus berkembang,” ujar Wenshi.

Melihat kondisi tersebut, almarhum Hadi Siswanto menghibahkan tanah dan membangun Kelenteng Kong Miao Litang pada tahun 2000.

“Melihat kebutuhan besar umat Konghucu akan tempat ibadah yang lebih layak, beliau menghibahkan tanah dan mendirikan kelenteng ini,” jelasnya.

Memasuki area kelenteng, pengunjung akan menemukan sebuah kuali besar tempat membakar dupa yang menjadi bagian dari ritual peribadatan. Di atasnya berdiri tiga patung malaikat penjaga langit yang dipercaya melindungi umat manusia.

Di bagian altar utama terdapat patung Nabi Kongzi dengan pelita yang terus menyala sebagai simbol keimanan.

“Lilin ini harus tetap menyala, karena itu melambangkan iman yang tak boleh padam dalam hati kita,” tutur Wenshi.

Kelenteng ini juga menunjukkan wajah toleransi melalui keberadaan patung Wie Tho Poo Sat, murid Buddha Gotama, yang menjadi simbol keterbukaan bagi umat Buddha untuk beribadah.

“Kami tidak membatasi. Siapa pun yang ingin beribadah dengan niat tulus, kami persilakan,” ujar Wenshi.

Selain patung Kongzi, terdapat pula altar untuk Tian Shang Sheng Mu, pelindung para pelaut, Tu Ti Pa Kung yang dipercaya membawa berkah bagi petani, hingga Guan Yu atau Kwan Kong yang dikenal sebagai lambang kejujuran, keberanian, dan keadilan.

Menurut Wenshi, banyak pejabat militer dan hakim menghormati sosok Guan Yu sebagai simbol penegakan keadilan.

“Guan Yu adalah dewa yang disembah oleh banyak pejabat militer dan hakim, mereka berharap mendapatkan restu untuk keadilan,” katanya.

Di dalam kelenteng juga terdapat altar Thai Shang Lao Jun dan Fu De Zheng Shen yang diyakini membawa kesehatan dan rezeki. Filosofi nama Fu De Zheng Shen mengajarkan bahwa keberkahan hidup diperoleh melalui kebajikan.

Salah satu pemandangan yang menarik perhatian adalah adanya gambar Eyang Putri, sesepuh lokal beragama Islam, yang dipasang di bagian belakang altar lengkap dengan Ayat Kursi.

Keberadaan simbol tersebut menjadi gambaran nyata bahwa Kelenteng Kong Miao Litang tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Konghucu, tetapi juga ruang yang merawat semangat persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan.

Di tengah masyarakat Kotawaringin Timur yang majemuk, kelenteng ini menjadi bukti bahwa sejarah, budaya, dan toleransi dapat tumbuh berdampingan serta diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas daerah.