Kasus Bom di Sekolah Dinilai Fenomena Gunung Es, Sosiolog Soroti Budaya Dialog yang Hilang

Jakarta – Dua kasus ledakan bom yang melibatkan pelajar di MAN 3 Padang dan SMAN 72 Jakarta dinilai tidak dapat dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Di balik kedua kasus tersebut, terdapat persoalan sosial dan pendidikan yang lebih dalam, mulai dari perundungan, lemahnya komunikasi dalam keluarga, hingga minimnya ruang bagi anak untuk mengelola emosi.

Pandangan itu disampaikan Sosiolog sekaligus Ketua Social Research Center (SOREC) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Andreas Budi Widyanta. Menurutnya, kedua peristiwa tersebut memiliki pola yang serupa, yakni munculnya tindakan ekstrem sebagai respons terhadap akumulasi tekanan psikologis yang tidak tersalurkan.

Ia menilai sebagian anak yang mengalami tekanan berkepanjangan dapat memandang tindakan kekerasan sebagai cara memperoleh kembali rasa kendali atas situasi yang mereka hadapi. Dalam konteks itu, bom bukan sekadar benda berbahaya, melainkan simbol dari ledakan kemarahan dan keputusasaan yang telah lama terpendam.

“Ketika seorang anak terus mengalami tekanan, rasa sakit, dan kemudian kembali diguncang oleh perundungan di lingkungan sekitarnya, kemarahan yang dipendam bisa berkembang menjadi tindakan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya,” ujarnya dikutip dari detikcom, Rabu (29/7).

Menurut Andreas, kasus-kasus tersebut merupakan fenomena gunung es. Peristiwa yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari persoalan yang sesungguhnya berkembang dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak pernah berlangsung secara terpisah. Nilai, norma, serta cara menghadapi masalah dipengaruhi oleh interaksi di rumah, sekolah, lingkungan sosial, hingga paparan informasi melalui ruang digital.

Ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang minim perhatian, kurang mendapatkan dukungan emosional, kemudian mengalami perundungan di sekolah, kondisi tersebut dapat memperbesar luka psikologis yang sebelumnya telah ada.

Di sisi lain, Andreas juga menyoroti semakin besarnya pengaruh media digital terhadap perilaku anak. Menurutnya, kemampuan anak untuk meniru atau mimesis membuat mereka rentan mengadopsi berbagai bentuk perilaku yang ditemukan di internet, termasuk konten yang memuat kekerasan.

Ia menilai tantangan tersebut tidak cukup dijawab melalui pembatasan akses teknologi semata. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan anak untuk berpikir kritis, mengelola emosi, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Dalam pandangannya, peristiwa di Padang maupun Jakarta seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan agar tidak hanya berfokus pada aspek keamanan fisik, seperti pengawasan terhadap bahan peledak atau pemeriksaan lingkungan sekolah. Langkah-langkah tersebut penting, tetapi tidak akan menyelesaikan akar persoalan apabila budaya sekolah masih mengabaikan kesehatan mental peserta didik.

Karena itu, ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, terutama dalam membangun budaya dialog antara guru, siswa, dan keluarga. Anak-anak, menurutnya, perlu memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan kecemasan, kemarahan, maupun tekanan yang mereka alami sebelum emosi tersebut berkembang menjadi perilaku destruktif.

Andreas menilai pendidikan di Indonesia masih cenderung menitikberatkan pada pencapaian akademik dibanding pembentukan karakter dan kecakapan sosial-emosional. Akibatnya, banyak peserta didik mampu menguasai pengetahuan, tetapi belum terbiasa mengenali serta mengelola perasaan mereka sendiri.

Ia juga menyoroti hubungan antara sekolah dan keluarga yang dinilai belum berjalan secara sinergis. Ketika seorang anak menghadapi persoalan serius, penyelesaiannya sering kali diserahkan kepada salah satu pihak, padahal proses pendampingan membutuhkan keterlibatan bersama antara orang tua, guru, konselor, dan lingkungan sosial.

Menurut Andreas, banyak orang tua masih lebih sering memberikan nasihat atau larangan daripada membangun percakapan yang terbuka dengan anak. Di sekolah, sebagian guru juga dinilai belum sepenuhnya menerapkan pendekatan yang memberi perhatian terhadap kebutuhan setiap peserta didik sebagai individu yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan persoalan yang berbeda.

Ia mengingatkan bahwa pendekatan pendidikan yang seragam sulit menjawab kompleksitas persoalan anak-anak saat ini. Setiap peserta didik membutuhkan perhatian yang proporsional sesuai kondisi psikologis, sosial, maupun lingkungan tempat mereka tumbuh.

Bagi Andreas, pembenahan pendidikan tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Keluarga, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan perlu membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya budaya dialog, empati, serta kepedulian terhadap kesehatan mental anak.

Peristiwa di dua sekolah tersebut, menurutnya, seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu mengelola emosi, menyelesaikan konflik secara damai, dan menghargai kehidupan bersama. Tanpa perubahan yang menyentuh akar persoalan, berbagai bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan dikhawatirkan akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.