Kampus Ruang Penting Perkuat Pemahaman Agama Moderat

Serang – Peran akademisi dinilai kian strategis dalam menangkal radikalisme berbasis agama yang kerap tumbuh dari pemahaman keagamaan yang sempit dan terpotong. Kampus dipandang sebagai ruang penting untuk menumbuhkan nalar kritis serta memperkuat pemahaman agama yang moderat di tengah masyarakat.

Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Nahdlatul Ulama Kota Serang, M. Raudho, mengatakan radikalisme sering berakar dari cara beragama yang instan dan tekstual, tanpa mempertimbangkan konteks sosial maupun sejarah.

“Radikalisme muncul ketika ajaran agama dipahami secara sepotong-potong. Ini berbahaya karena melahirkan sikap eksklusif dan klaim kebenaran tunggal,” ujar Raudho kepada dikutip dari laman rri.co.id, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, akademisi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menghadirkan pemahaman keagamaan yang utuh, seimbang, dan berkeadilan. Ia menekankan pentingnya prinsip ummatan wasathan atau umat moderat sebagai fondasi beragama dalam Islam.

“Konsep ummatan wasathan mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, serta menolak sikap ekstrem, baik yang terlalu kaku maupun yang melampaui batas,” jelasnya.

Raudho menilai proses pendidikan di perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti pada pembacaan teks keagamaan semata. Akademisi perlu membimbing mahasiswa agar mampu memahami, menganalisis, dan mengkritisi setiap rujukan secara ilmiah dan kontekstual.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, penting untuk mencegah mahasiswa terjebak dalam pemahaman keagamaan yang rigid dan tertutup terhadap perbedaan.

Selain melalui ruang kelas, akademisi juga diharapkan aktif terlibat dalam ruang publik dengan melakukan dialog kebangsaan dan edukasi masyarakat. Kegiatan ini dinilai efektif untuk memperkuat nilai toleransi dan mencegah penyebaran paham ekstrem, terutama di kalangan generasi muda.

Ia menambahkan, derasnya arus informasi digital membuat peran akademisi semakin krusial. Tanpa narasi keagamaan yang moderat dan kredibel, ruang publik berisiko dipenuhi hoaks serta propaganda yang mengatasnamakan agama.

“Akademisi harus hadir sebagai penjernih, bukan sebagai pembenaran atas kekerasan,” tegasnya.

Raudho berharap kolaborasi antara kampus, tokoh agama, dan media terus diperkuat guna merawat moderasi beragama serta menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.