Kampung Pancasila di Banyuwangi, Tak Hanya Toleransi tapi Jadi Pusat Budaya dan Ekonomi

Banyuwangi – Di sudut Desa Patoman, tepatnya di Dusun Patoman Tengah, berdiri sebuah kawasan yang oleh warga setempat dikenal sebagai Dusun Balian. Julukan itu melekat karena mayoritas penduduknya merupakan umat Hindu, dengan kehidupan sosial yang tumbuh dalam semangat toleransi yang kuat.

Memasuki dusun ini, suasananya mengingatkan pada perkampungan di Pulau Bali. Deretan rumah bergaya Bali dan keberadaan pura di tengah permukiman menjadi identitas yang khas. Namun bukan hanya arsitekturnya yang menarik perhatian, melainkan cara hidup warganya yang menjunjung tinggi kebersamaan.

“Selama ini tidak pernah ada masalah. Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” kata Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana, saat mendampingi Bupati Ipuk Fiestiandani dalam agenda Bunga Desa, pekan lalu.

Semangat hidup berdampingan itu membuat Dusun Balian dikenal sebagai Kampung Pancasila—sebuah ruang di mana perbedaan bukan sekat, melainkan kekuatan sosial.

Tak hanya soal toleransi, dusun ini juga menjadi pusat pelestarian budaya. Di Pura Desa Patoman, anak-anak hingga remaja rutin belajar agama, tari tradisional, gamelan, hingga berbagai seni lokal lainnya.

Bagi warga, pura bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang bersama untuk menjaga identitas budaya sekaligus menyiapkan generasi muda agar tetap terhubung dengan akar tradisinya.

Dari sisi ekonomi, kreativitas warga Dusun Balian juga terus berkembang. Salah satu contohnya adalah usaha seni ukir kayu dan pasir milik Kayan Suartana, seniman lokal yang telah berkarya sejak tahun 2000.

Dari tangannya lahir beragam produk seni, mulai ornamen rumah hingga patung artistik yang kini dipasarkan ke berbagai daerah seperti Bali, Nganjuk, hingga Jawa Tengah.

Potensi ekonomi lain datang dari sektor pertanian. Warga mulai mengembangkan budidaya Cabe Jawa atau Cabe Puyang, komoditas bernilai tinggi yang kini menjadi sumber pendapatan baru.

Salah satu petani, Made Ardana, menanam sekitar seribu pohon di lahan seluas 3.000 meter persegi.

“Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” ujarnya.

Menurut Made, satu kilogram Cabe Jawa basah menghasilkan sekitar tiga ons setelah dikeringkan, dengan harga jual mencapai Rp85 ribu per kilogram. Permintaan pasar pun terus meningkat, bahkan hasil panen warga telah menembus pasar ekspor ke Jepang dan China untuk kebutuhan industri kosmetik.

Dusun Balian membuktikan bahwa toleransi bukan hanya menciptakan kedamaian, tetapi juga mampu melahirkan kreativitas, menjaga budaya, dan menggerakkan ekonomi warga secara berkelanjutan.