Kamp Al-Hol Jebol, Ribuan Simpatisan ISIS Lari Saat Transisi Keamanan di Suriah

Damaskus – Ribuan anggota keluarga yang terafiliasi dengan kelompok ekstremis Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dilaporkan berhasil melarikan diri secara massal dari Kamp Penahanan Al-Hol di wilayah timur laut Suriah, sepanjang akhir Januari hingga pertengahan Februari 2026. Insiden jebolnya fasilitas penahanan tersebut terjadi akibat melemahnya pengawasan keamanan saat berlangsungnya proses transisi kendali dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) ke aparat Pemerintah Suriah, yang kemudian dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup untuk mengeluarkan para tahanan dari area kamp.

Dikutip dari New York Times, pemerintah Suriah menyalahkan SDF atas kekacauan ini. Mereka mengklaim SDF menarik pasukan dari Al Hol tanpa berkoordinasi pemindahan kekuasaan kamp. Pasukan Suriah datang 10 jam setelah SDF meninggalkan kamp yang menyebabkan ketiadaan pasukan keamanan, dan kaburnya ribuan tahanan. 

Menurut data per 19 Januari 2026, atau sehari sebelum pemerintah Suriah secara resmi mengambil alih kendali, populasi kamp Al-Hol tercatat mencapai 6.639 keluarga dengan total 23.407 individu. Komposisi penghuni tersebut didominasi oleh warga negara Suriah dan Irak, serta 6.280 warga negara asing yang berasal dari lebih dari 40 negara berbeda. 

Namun, transisi kekuasaan ini memicu eksodus besar-besaran. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) mengonfirmasi adanya penurunan signifikan jumlah penghuni kamp dalam beberapa pekan terakhir, meskipun belum dapat merilis angka pasti mengenai populasi yang tersisa. Ironisnya, laporan terbaru dari Reuters pada Rabu (18/2/2026) mengungkapkan fakta yang lebih mencengangkan: jumlah keluarga yang masih bertahan di kamp yang berbatasan dengan Irak tersebut kini diperkirakan telah menyusut drastis menjadi kurang dari 1.000 keluarga.Laporan The New York Times turut menyoroti bahwa penutupan kamp yang diwarnai kekacauan ini menjadi ujian keamanan darurat bagi rezim Suriah. Bebasnya ribuan simpatisan ini memicu peringatan global atas potensi kebangkitan kembali sel-sel radikal di Timur Tengah. Menyikapi situasi yang kian tak terkendali, otoritas keamanan dan militer Amerika Serikat dilaporkan harus bergerak cepat memindahkan ribuan tahanan petempur ISIS dari berbagai fasilitas di Suriah menuju penjara berkeamanan tinggi di Irak demi mencegah risiko keamanan yang lebih luas.