Jelang Pertemuan Prabowo-Modi, MUI Minta Isu Kebebasan Beragama Masuk Agenda 

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi tidak hanya berfokus pada penguatan kerja sama ekonomi dan hubungan strategis kedua negara. MUI menilai momentum diplomatik tersebut juga perlu dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen bersama terhadap toleransi, kebebasan beragama, dan perlindungan hak asasi manusia.

Harapan itu disampaikan menjelang kunjungan resmi Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026 atas undangan Presiden Prabowo Subianto. Agenda tersebut dijadwalkan mencakup pertemuan bilateral di Jakarta pada 7 Juli, sebelum Modi melanjutkan kunjungannya ke Yogyakarta sehari kemudian.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan kedua pemimpin memiliki peluang untuk memperluas ruang dialog yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai demokrasi dan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Menurut Sudarnoto, Indonesia dan India sebagai dua negara demokrasi besar memiliki tanggung jawab untuk memperkuat penghormatan terhadap keberagaman serta menjamin kebebasan setiap warga negara dalam menjalankan keyakinannya.

“Sangat diharapkan perbincangan dua pemimpin ini juga memberikan perhatian serius terhadap prinsip-prinsip toleransi hidup beragama sebagai bagian dari upaya menyehatkan dan memperkuat demokrasi,” kata Sudarnoto dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

Ia menilai isu kebebasan beragama patut menjadi bagian dari pembahasan kedua kepala negara, terutama berkaitan dengan kondisi sebagian komunitas Muslim di India yang dalam sejumlah laporan internasional disebut masih menghadapi tantangan berupa diskriminasi dan tindakan intoleransi.

Menurutnya, berbagai laporan, termasuk dari Organisasi Kerja Sama Islam, masih mengangkat persoalan mengenai praktik-praktik diskriminatif yang dilakukan oleh kelompok ekstrem terhadap masyarakat Muslim di India.

“Laporan OIC memperkuat adanya praktik intoleran kelompok ekstremis ini. Kelompok ekstrem seperti inilah yang sering disebut sebagai penggerak Islamofobia, anti-Islam dan keberadaan umat Islam,” ujarnya.

Atas dasar itu, MUI berharap pertemuan Prabowo dan Modi dapat menghasilkan komitmen yang lebih kuat untuk menjamin kebebasan beragama serta perlindungan hak-hak seluruh warga negara tanpa membedakan agama maupun latar belakang kepercayaan.

Sudarnoto menilai komitmen tersebut penting sebagai bagian dari penguatan demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia di kedua negara.

“Saya sungguh berharap pertemuan PM India dan Presiden RI juga menghasilkan kesepakatan agar pemerintah India melindungi hak-hak beragama umat Islam sebagaimana yang dirasakan warga mayoritas India, tidak ada lagi diskriminasi dan apalagi anti-Islam dan umat Islam,” katanya.

Selain mendorong pembahasan mengenai toleransi, MUI juga memandang kerja sama antarorganisasi dan tokoh agama perlu terus diperluas. Menurut Sudarnoto, dialog lintas agama dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif dalam membangun saling pengertian, mencegah ekstremisme, serta memperkuat perdamaian di tingkat regional maupun global.

Ia berharap hubungan antara komunitas Islam dan Hindu di Indonesia maupun India dapat terus berkembang melalui berbagai forum dialog dan kerja sama sosial-keagamaan.

Dalam kesempatan yang sama, Sudarnoto menyampaikan apresiasi atas kunjungan kenegaraan Narendra Modi ke Indonesia. Ia optimistis hubungan bilateral kedua negara akan semakin erat dan mampu memberikan kontribusi positif bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

“Dua negara ini harus bisa memberikan sumbangan penting bagi upaya mewujudkan ketenteraman, keamanan, kedamaian kawasan, dan mewujudkan kehidupan harmonis di kalangan masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, Sudarnoto juga menyampaikan penyesalannya atas batalnya agenda pertemuan antara delegasi MUI dan Narendra Modi yang semula direncanakan berlangsung selama kunjungan tersebut.

Padahal, menurutnya, forum itu dipersiapkan untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari toleransi, kebebasan beragama, kerja sama sosial-keagamaan, penanggulangan ekstremisme, hingga penguatan diplomasi perdamaian.

“Semoga ini menjadi perhatian PM dan Presiden,” ucapnya.

Pertemuan bilateral antara Prabowo dan Narendra Modi diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan India, sekaligus memperluas kerja sama pada isu-isu kemanusiaan, penghormatan terhadap kebebasan beragama, serta upaya bersama membangun perdamaian dan stabilitas di kawasan maupun dunia.