Jelang Pemilu 2024, Tangkal Intoleransi dan Politik Identitas Dengan Literasi Digital Gen Z

Jakarta – Memasuki tahun politik menuju Pemilu 2024, potensi intoleransi dan politik identitas dikhawatirkan muncul di tengah masyarakat. Kemampuan literasi digital kelompok Gen Z diharapkan dapat menangkalnya.

Demikian salah satu poin yang mengemuka dalam diskusi bertema kampanye internet untuk menangkal intoleransi pada Pemilu 2024. Kegiatan itu diadakan Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia bersama dengan KAICIID.

Acara diskusi itu melibatkan sejumlah pegiat media sosial dan pemantau pemilu. Diskusi juga diikuti oleh kelompok Gen Z di Jawa Barat, yang mewakili beberapa organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan HMI.

Untuk memantik diskusi, terdapat pemaparan yang bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bahwa pada 2022 potensi radikalisasi di dunia maya cenderung meningkat. Peningkatan tersebut beriringan dengan penggunaan internet yang semakin masif.

Termasuk di antaranya keberadaan 600 situs dan akun di berbagai platform media sosial yang bermuatan unsur radikal. Situs-situs tersebut menyebarkan lebih dari 900 konten propaganda.

Direktur DEEP Indonesia, Neni Nur Hayati menyatakan, sikap intoleransi, terutama di Jawa Barat, masih sering terjadi. Contohnya, kata dia, yakni penolakan pendirian rumah ibadah, pengrusakan tempat ibadah, hingga ujaran kebencian.

“Kecenderungan terjadi praktik intoleransi di Indonesia memasuki tahapan kampanye Pemilu 2024 bisa berpotensi terjadi terutama di Jawa Barat, ketika pihak-pihak yang berkontestasi memanfaatkan isu politik identitas dan keagamanaan untuk mencari dukungan konstituen,” ujar Neni Nur Hayati¬† dalam keterangannya, Kamis (8/6).

Ketika anak muda belum memiliki literasi kritis yang memadai, menurut dia, maka anak muda kemungkinan bisa menjadi korban penyebaran paham intoleransi, bahkan paham radikal menjadi lebih terbuka.

“Kehadiran media baru dan internet harus dijadikan sebagai sarana narrative counter-radicalism. Dengan menghadirkan wacana alternatif dan mengkampanyekan toleransi melalui media sosial masing-masing,” katanya.