Jaga NKRI, Pemikiran KH Wahab Hasullah: Perkuat Pesantren untuk Teguhkan Moderasi Beragama 

Metro – Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah masih sangat relevan untuk menjawab tantangan bangsa saat ini, terutama dalam memperkuat pesantren, meneguhkan moderasi beragama, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pesan itu mengemuka dalam bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertema The Mastermind of Movement: Mengupas Tuntas Seni Kepemimpinan Inklusif dan Dialektika Moderasi yang digelar di UIN Jurai Siwo Lampung, Sabtu.

Forum tersebut bukan sekadar membahas sosok sejarah, tetapi menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali gagasan besar Kiai Wahab sebagai ulama, negarawan, dan penggerak kebangsaan yang jejak pemikirannya masih terasa hingga hari ini.

Menteri Agama Nasaruddin Umar melalui tayangan video menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia yang telah terbukti mampu bertahan melintasi zaman. Menurutnya, pesantren tidak hanya menjaga nilai moral bangsa, tetapi juga melahirkan generasi pemimpin yang memiliki semangat keislaman sekaligus nasionalisme.

“Pesantren adalah benteng moral bangsa. Dari sanalah lahir banyak tokoh yang menjaga Indonesia tetap utuh,” kata Nasaruddin.

Ia menjelaskan pemerintah kini tengah memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama. Langkah itu diarahkan agar pesantren mampu berkembang menjadi pusat inovasi, pemberdayaan ekonomi umat, dan institusi pendidikan yang berdaya saing global.

“Kalau dahulu Kiai Wahab menjaga bangsa melalui organisasi dan diplomasi, hari ini tugas kita adalah menjaga kedaulatan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menambahkan bahwa sejarah Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kontribusi pesantren dan tokoh besar seperti Kiai Wahab Hasbullah.

“Beliau bukan sekadar pendiri organisasi, tetapi pemikir besar yang merawat Indonesia melalui pendekatan keagamaan yang moderat,” ujarnya.

Menurut Basnang, warisan pemikiran Kiai Wahab sangat relevan untuk menghadapi tantangan kontemporer seperti intoleransi, kekerasan, dan fragmentasi sosial yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa.

Sementara itu, perwakilan keluarga besar Kiai Wahab, Ita Rahmawati, menyebut sosok ulama tersebut sebagai “arsitek dialektika moderasi” karena mampu memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan dalam satu napas perjuangan.

“Moderasi yang diajarkan Kiai Wahab bukan berarti kehilangan prinsip, tetapi kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas,” katanya.

Buku yang dibedah dalam forum tersebut mengangkat pendekatan The Mastermind of Movement, yang menyoroti kepemimpinan Kiai Wahab sebagai sosok visioner dengan kemampuan membangun gerakan sosial-keagamaan secara inklusif dan strategis.

Dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama bersama KH. Hasyim Asy’ari pada 1926, Kiai Wahab juga tercatat berperan besar dalam perjuangan Komite Hijaz serta menggagas gerakan intelektual seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.