ISIS-K Klaim Bertanggung Jawab atas Bom Bunuh Diri di Kabul: 7 Tewas, Termasuk WN Tiongkok

Kabul – Cabang kelompok militan Negara Islam (ISIS) di wilayah Khorasan, yang lebih dikenal sebagai ISIS-K, secara resmi mengklaim tanggung jawab atas serangan bom bunuh diri mematikan yang menyasar sebuah restoran Tiongkok di kawasan padat Shahr-e Naw, Kabul, Afghanistan. Serangan ini menandai eskalasi baru dalam serangkaian teror yang dilakukan kelompok ekstremis tersebut di bawah pemerintahan Taliban.

Insiden berdarah ini terjadi pada hari Senin, 19 Januari 2026, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Berdasarkan konfirmasi dari otoritas keamanan Taliban, ledakan dahsyat tersebut mengakibatkan sedikitnya tujuh orang tewas di lokasi kejadian, termasuk satu orang warga negara Tiongkok. Selain korban jiwa, tim medis melaporkan bahwa sedikitnya 13 orang lainnya mengalami luka-luka dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan darurat.

Melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Berita Amaq, yang merupakan kanal propaganda utama ISIS, kelompok tersebut merinci bahwa seorang pelaku bom bunuh diri berhasil menyusup ke dalam restoran Tiongkok di distrik Shahr-e Naw. Pelaku kemudian meledakkan sabuk bahan peledaknya di tengah kerumunan yang terdiri dari warga negara Tiongkok dan personel keamanan Taliban yang berjaga di lokasi tersebut.

Dalam narasinya, ISIS-K mengklaim bahwa serangan tersebut jauh lebih mematikan daripada yang dilaporkan secara resmi. Tanpa memberikan bukti konkret, kelompok radikal ini menyatakan bahwa total korban tewas dan luka-luka mencapai 25 orang. Mereka menegaskan bahwa target utama adalah warga negara Tiongkok, warga sipil Afghanistan yang bekerja di sana, serta anggota Taliban yang dianggap sebagai pengkhianat karena melindungi kepentingan asing.

Salah satu poin paling krusial dalam pernyataan ISIS-K adalah motif di balik penargetan warga Tiongkok. Kelompok tersebut secara eksplisit menyatakan bahwa serangan ini merupakan bentuk “pembalasan” atas perlakuan pemerintah Tiongkok terhadap Muslim Uighur di wilayah Xinjiang. Narasi ini merupakan bagian dari upaya ISIS-K untuk memposisikan diri mereka sebagai pembela global umat Islam, sekaligus menekan pengaruh ekonomi dan diplomatik Tiongkok yang kian menguat di Afghanistan sejak kembalinya Taliban ke kekuasaan.

Informasi dari lapangan, termasuk laporan dari Afghanistan International, mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut menghancurkan papan nama dan sebagian besar struktur bangunan restoran bernama “China Lanzhou Beef Noodle”. Video yang beredar di media sosial menunjukkan puing-puing bangunan yang berserakan dan kepulan asap hitam di tengah lingkungan yang biasanya menjadi pusat aktivitas ekspatriat dan diplomat.

Menariknya, otoritas Taliban memberikan detail tambahan mengenai warga negara Tiongkok yang menjadi korban tewas. Pejabat setempat mengidentifikasi korban sebagai Abdul Rahman, seorang Muslim asal Xinjiang, Tiongkok. Fakta ini menunjukkan kerumitan target ISIS-K yang tidak memandang latar belakang agama korban selama mereka dianggap berafiliasi dengan negara atau sistem yang mereka benci.

Serangan ini menambah daftar panjang kegagalan keamanan Taliban dalam menjaga kestabilan di ibu kota. Meskipun Taliban berulang kali mengklaim telah menumpas sel-sel ISIS-K, serangan bunuh diri di pusat kota Kabul membuktikan bahwa kelompok teroris tersebut masih memiliki kemampuan operasional yang signifikan. Eskalasi ini juga mengancam kepercayaan investor asing, khususnya Tiongkok, yang saat ini menjadi mitra ekonomi utama bagi pemerintah transisi Afghanistan di tengah isolasi internasional.

Kini, komunitas internasional kembali menaruh perhatian besar pada Afghanistan, mempertanyakan sejauh mana Taliban mampu meredam radikalisme transnasional agar tidak meluap ke luar perbatasan negara tersebut dan menjadi ancaman keamanan global yang lebih besar.