ISIS Jual Perempuan untuk Beli Senjata

DOHUK – Salah satu aktivis kemanusiaan di Irak mengatakan bahwa ISIS kerap kali menjual para perempuan yang mereka culik, untuk dijadikan alat dalam membeli senjata.

Lebih dari 3.000 perempuan hingga kini menjadi tawanan dari kelompok militan radikal itu, ketika ISIS menyerang Desa Yazidi di wilayah Pegunungan Sinjar, Irak pada bulan Agustus 2014. Menurut pimpinan Yazidi Affairs Directorate Regional Kurdistan, hampir 500.000 orang telah diungsikan dari wilayah tersebut, semenjak serangan ISIS.

Seorang aktivis bernama Khider Domle, ia telah mewawancarai puluhan perempuan yang berhasil kabur dari ISIS. Ia mengatakan para perempuan yang ditawan ISIS kerap kali dijual secara bergilir antara satu militan ke militan lainnya, beberapa perempuan bahkan dijual untuk membeli senjata.

“Para perempuan itu dijual untuk membeli senjata atau yang terparah, mereka dijual untuk 10 bungkus rokok,” kata Domle, sebagaimana dilansir dari NBC News, Senin (30/11/2015).

Pimpinan daerah-daerah di Irak, mengatakan setidaknya 2.000 perempuan telah dijual oleh militan radikal ini. Menurut kesaksian salah satu perempuan bernama Aveen yang berhasil kabur dari cengkraman ISIS, para perempuan yang masih belia dijadikan budak seks dan yang dewasa dijadikan sebagai pembantu.

“Mereka menculik perempuan muda, usia tujuh, sembilan dan sepuluh tahun,” kata Aveen.

Aveen menambahkan, ia diculik dari desanya dan dibawa ke wilayah Raqqa, Irak, di mana ia ditawan oleh militan radikal tersebut, yang kerap kali memukulinya dan memperkosanya. Perempuan malang tersebut, mengaku hampir selama setahun ia menjadi tawanan ISIS.

Rata-rata perempuan yang selamat dari ISIS di Irak, akan tinggal di pengungsian Kamp Khanke di Provinsi Dohuk, Irak, bersama dengan pengungsi Yazidi lainnya. Banyak dari mereka mengalami trauma secara psikologi, akibat pengalaman yang mereka dapatkan ketika ditawan oleh para Daesh (sebutan lain dari ISIS).

Sumber : Okezone.com