Ibu-Ibu Gereja Toraja di Makassar Bagikan Takjil Ramadan, Tebar Pesan Toleransi

Makassar – Semangat berbagi dan toleransi tampak di depan Gereja Toraja Jemaat Masale, Jalan Adhyaksa Baru, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (4/3/2026) sore. Menjelang waktu berbuka puasa, ibu-ibu yang tergabung dalam Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Jemaat Masale turun langsung membagikan takjil kepada para pengendara yang melintas.

Aksi sosial tersebut menjadi bentuk kepedulian umat Kristiani kepada masyarakat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarumat beragama di lingkungan sekitar.

Ketua PWGT Jemaat Masale, Mety Timang Paembong, mengatakan pembagian takjil ini merupakan bagian dari program kerja organisasi yang memang dirancang khusus untuk bulan Ramadan.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi wujud penghormatan kepada umat Islam yang tengah menunaikan ibadah puasa.

“Kami ingin menunjukkan rasa toleransi dan kasih kepada sesama, khususnya kepada saudara-saudara kita yang sedang berpuasa,” ujar Mety di lokasi kegiatan.

Dalam kegiatan perdana ini, para anggota PWGT menyiapkan lebih dari 200 bungkus takjil yang dibagikan kepada pengendara yang melintas di depan gereja. Menariknya, seluruh makanan disiapkan secara gotong royong oleh para anggota jemaat.

Mereka membuat sendiri takjil berupa olahan pisang khas Makassar, yakni pallu butung, yang kemudian dikemas dan dibagikan menjelang waktu berbuka.

Mety mengaku kegiatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat. Ia juga merasakan kebahagiaan tersendiri karena para anggota jemaat dapat terlibat langsung dalam aksi berbagi tersebut.

“Kami sangat senang bisa berbagi seperti ini. Ibu-ibu juga antusias karena ini pengalaman pertama bagi kami,” tuturnya.

Lebih dari sekadar membagikan makanan berbuka, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat kebersamaan masyarakat di sekitar lingkungan gereja.

Mety menilai sikap saling peduli dan berbagi kepada sesama merupakan nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga, terlepas dari perbedaan latar belakang agama.

“Memberi itu bukan hanya untuk kita sendiri. Harapannya semua bisa merasakan, dan kepedulian terhadap sesama manusia harus selalu kita utamakan,” pungkasnya.