Hari Santri, Pemkab Bekasi Ajak Generasi Muda Lawan Kebodohan dan Bangun Negeri

Hari Santri, Pemkab Bekasi Ajak Generasi Muda Lawan Kebodohan dan Bangun Negeri

KABUPATEN BEKASI – Perjuangan santri dalam mengisi kemerdekaan tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut menjadi pesan utama Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam mengajak kalangan santri meneruskan perjuangan para ulama dan pendahulu bangsa.

Penjabat Bupati Bekasi Dedy Supriyadi mengatakan, Hari Santri Nasional merupakan momentum untuk mengenang jasa para ulama dan santri yang berperan dalam perjuangan merebut sekaligus mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun, penghormatan terhadap sejarah tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam menghadapi tantangan zaman.

Menurut Dedy, santri masa kini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan pendahulu dengan meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, dan mengambil bagian dalam pembangunan nasional.

“Peran santri era sekarang meneruskan perjuangan para tokoh kiai terdahulu, mengisi kemerdekaan melalui pembangunan sekaligus memerangi kebodohan dengan terus menuntut ilmu,” katanya di Cikarang.

Ia menjelaskan, jika para ulama dan santri pada masa perjuangan kemerdekaan mengangkat senjata untuk melawan penjajahan, generasi santri saat ini dapat meneruskan semangat yang sama melalui ilmu pengetahuan dan karya. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk membangun masyarakat yang lebih maju dan meningkatkan daya saing bangsa.

Dedy juga mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan memiliki keterkaitan erat dengan peran ulama, terutama melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan rakyat Indonesia, termasuk dalam rangkaian peristiwa yang mengarah pada Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

“Peristiwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 tidak bisa dipisahkan dari peristiwa 10 November 1945 tanpa adanya Resolusi Jihad Hadratus Syekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” ujarnya.

Bagi Dedy, semangat perjuangan tersebut perlu diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Menyambung perjuangan bukan sekadar mengenang jasa tokoh terdahulu, melainkan meneruskan nilai-nilai pengorbanan, ketekunan, dan tanggung jawab terhadap bangsa.

Ia menilai, kalangan santri memiliki peluang luas untuk berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, pelayanan publik, hingga pembangunan sosial dan ekonomi. Latar belakang pesantren tidak membatasi ruang pengabdian, justru dapat menjadi bekal untuk membangun karakter, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat.

“Karena sejarah membuktikan telah banyak para tokoh dari kalangan presiden, wakil presiden, birokrat, punya latar belakang santri. Saya berharap Hari Santri 2024 ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam merengkuh masa depan dan cita-cita,” kata Dedy.

Dedy menegaskan, Hari Santri Nasional bukan hanya menjadi milik kalangan pesantren, santri, dan kiai. Peringatan tersebut merupakan bagian dari sejarah nasional yang relevan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum Hari Santri sebagai sarana memperkuat persatuan sekaligus mengenang pengorbanan para pahlawan dan ulama yang turut memperjuangkan kemerdekaan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan seluruh pahlawan, para ulama yang telah memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, semoga mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT,” ucapnya.

Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Kabupaten Bekasi digelar melalui apel bersama yang diselenggarakan pemerintah daerah dan Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bekasi. Kegiatan tersebut mengusung tema Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan.

Dalam apel itu, Resolusi Jihad Santri dibacakan oleh KH Nurhayadi, Pimpinan Pondok Pesantren Sirojul Ummah yang juga menjabat Wakil Khatib Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat.

Pembacaan tersebut menjadi pengingat atas peran ulama dan santri dalam sejarah kemerdekaan sekaligus penegasan bahwa nilai perjuangan tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui peringatan Hari Santri, Pemkab Bekasi berharap para santri semakin terdorong untuk mengembangkan ilmu, memperkuat karakter, dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu diharapkan tidak berhenti sebagai ingatan sejarah, tetapi tumbuh menjadi energi untuk membangun Indonesia yang lebih maju.