Hari Kesaktian Pancasila, Al Haris Ingatkan Ancaman Perpecahan Kini Berubah Bentuk

JAMBI — Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris mengingatkan masyarakat bahwa tantangan terhadap persatuan bangsa tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Di tengah perkembangan zaman, ancaman terhadap keutuhan bangsa dapat muncul melalui intoleransi, paham radikal, hingga berbagai upaya memecah belah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Al Haris dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026. Menurutnya, peringatan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk kembali memahami perjalanan sejarah bangsa sekaligus memperkuat komitmen terhadap Pancasila.

Al Haris mengatakan sejarah Indonesia menunjukkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa pernah menghadapi berbagai tantangan. Bangsa Indonesia, kata dia, telah melewati berbagai ujian tersebut sehingga Indonesia tetap berdiri sebagai negara yang utuh.

“Hari ini kita melaksanakan upacara dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026. Tentu ini menunjukkan bahwa sebagai bangsa yang besar, kita harus selalu melihat sejarah bahwa Indonesia pernah memiliki sejarah bahwa Pancasila yang menjadi lambang negara kita, ideologi Pancasila hampir saja dirongrong. Dan kita bangsa Indonesia mampu melewati itu semuanya. Sampai hari ini Indonesia masih tegak utuh,” ujar Al Haris.

Karena itu, ia menilai generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurut Al Haris, menjaga Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafalkan nilai-nilainya. Semangat persatuan, gotong royong, toleransi, serta penghormatan terhadap keberagaman harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia secara khusus mengingatkan generasi muda agar menjadikan sejarah sebagai pembelajaran untuk menghadapi tantangan persatuan yang terus berubah.

“Karena itu tentu Hari Kesaktian Pancasila ini kita jadikan refleksi terutama bagi anak muda, dan bagi anak-anak bangsa ini bahwa kita harus bersatu padu. Kita harus solid. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini menjadi refleksi bagi kita semua bahwa Pancasila pernah dirongrong. Karena itu, tugas kita bersama adalah menjaga, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Al Haris juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi membuat potensi perpecahan dapat muncul dalam bentuk yang berbeda dibandingkan masa lalu. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kewaspadaan terhadap berbagai isu yang dapat memicu konflik dan merusak persatuan.

Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya berasal dari persoalan politik atau konflik sosial, tetapi juga dapat berupa penyebaran paham intoleran dan radikal yang berusaha memengaruhi masyarakat secara perlahan.

“Pemecah belah itu sekarang mungkin modelnya beda, kalau dulu mungkin modelnya menculik para jenderal dan sebagainya. Hari ini ya ada juga untuk kelompok yang masih radikal, yang masih intoleransi dan sebagainya yang diam-diam berusaha untuk memecah belah kita,” katanya.

Al Haris menegaskan, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, keberagaman harus ditempatkan sebagai kekuatan untuk memperkokoh kehidupan berbangsa.

Ia mengajak seluruh masyarakat Jambi untuk menjaga soliditas, menghindari provokasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi atau isu yang sengaja digunakan untuk memecah persatuan.

“Ini yang tidak boleh terjadi di negara kita ini. Kita harus solid sebagai bangsa setanah air, dan ikut terlibat dalam pembangunan bersama-sama dengan pemerintah. Bersama kita kuat, Indonesia akan menjadi negara yang selamanya jaya,” pungkasnya.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga keutuhan bangsa merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pengamalan nilai Pancasila, penguatan toleransi, dan kemampuan menyikapi berbagai informasi secara kritis menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan persatuan di era modern.