Pontianak – Momentum Idulfitri dimanfaatkan Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Barat untuk memperkuat harmoni lintas agama, tidak hanya di pusat kota tetapi hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Melalui kegiatan halal bihalal yang digelar Senin (30/3), berbagai elemen masyarakat—mulai dari tokoh agama, pimpinan organisasi keagamaan, hingga aparatur sipil negara—berkumpul dalam suasana kebersamaan di halaman rumah dinas Kakanwil.
Kepala Kanwil Kemenag Kalbar, Muhajirin Yanis, menilai kehadiran lintas elemen tersebut menjadi bukti kuat bahwa sinergi antarumat beragama terus terjaga.
“Momentum ini penting untuk mempererat kebersamaan. Dalam perjalanan setahun, tentu ada hal-hal yang perlu kita perbaiki bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, semangat toleransi dan kepedulian sosial harus terus dirawat sebagai fondasi utama menjaga harmoni di Bumi Khatulistiwa.
Yang menarik, kegiatan ini juga melibatkan para dai yang bertugas di wilayah perbatasan dan pedalaman Kalimantan Barat. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa penguatan moderasi beragama tidak hanya berlangsung di pusat, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terpencil.
Dalam tausyiahnya, Ahmad Sofiyullah mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai Ramadan yang baru saja berlalu, terutama dalam meningkatkan ketakwaan dan kualitas hubungan sosial.
Ia menekankan bahwa silaturahmi memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat.
“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, hendaknya memperbanyak silaturahmi,” tuturnya.
Mengutip ajaran ulama Syech Junet Albarjanji, ia juga menyampaikan empat kunci peningkatan derajat manusia, yakni kesabaran, kerendahan hati, kedermawanan, serta akhlak yang baik.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyambutan para dai 3T yang telah menjalankan tugas selama sebulan. Mereka menerima apresiasi berupa piagam penghargaan dan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kalimantan Barat sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka.
Melalui kegiatan ini, Kemenag Kalbar berharap semangat kebersamaan tidak hanya menjadi simbol seremonial, tetapi terus hidup dalam praktik sehari-hari, termasuk di wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses.
Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme!